MAU
tidak mau, karena bukan kita yang punya zaman ini, Februari adalah
merah jambu. Februari adalah hari kasih sayang. Penyebabnya apalagi
kalau bukan sebuah hari yang bernama Valentine yang jatuh pada tanggal
14.
Ya, bagaimana tidak, pada bulan ini, kita selalu saja menyaksikan
media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan, dan stasiun televisi
bersibuk-ria berlomba menarik perhatian. Biasanya pesta perayaan
dilakukan tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini
hari. Dan standar semua itu kemudian biasanya mereka saling mengucapkan
“selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar
kado, mengirim SMS, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena
anggapan saat itu adalah “hari kasih sayang”.
Namaya juga manusia, keinginan untuk ikut-ikutan memang pasti selalu
ada dalam diri kita. Tapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam
apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan
pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara aqidah, ibadah,
syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah
melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang
siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR.
At-Tirmidzi).
Jadi, dalam dalam hal ini kita merayakan Valentine maka tidak
disangsikan lagi bahwa kita sudah kafir. Kalau niatnya bukan untuk
itu—bukan untuk merayakan Valentine? Lantas apa lagi.
Coba telaah ini. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka,
telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat
atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari
raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai
pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena
berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan
Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan
lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau
membunuh.
“Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu
perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang
yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah
atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan
dan kemurkaan Allah.”
SEKADAR mengingatkan saja—jika Valentine itu budaya turun-termurun
dari nenek moyangnya orang Barat. Pada awalnya orang-orang Romawi
merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang
diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai penghormatan
kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam
ini) seperti apa yang mereka percayai. Setelah penyebaran agama Kristen,
para pemuka gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen
terhadap para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius
(Pope Gelasius) mengganti peringatan Lupercalia itu menjadi Saint
Valentine’s Day, yaitu Hari Kasih Sayang Untuk Orang-Orang Suci.
Dalam sejarah perayaan Valentine, para ahli sejarah tidak setuju
dengan adanya upaya untuk menghubungkan hal itu dengan St. Valentine,
seorang pendeta yang hidup di Roma pada tahun 200 masehi, di bawah
kekuasaan Kaisar Claudius II. St. Valentine ini pernah ditangkap oleh
orang-orang Romawi dan dimasukkan ke dalam penjara, karena dituduh
membantu satu pihak untuk memusuhi dan menentang Kaisar. St. Valentine
ini berhasil ditangkap pada akhir tahun 270 masehi. Kemudian orang-orang
Romawi memenggal kepalanya di Palatine Hill (Bukit Palatine) dekat
altar Juno.
Dalam kaitannya dengan acara Valentine’s Day, banyak pula orang
mengkaitkan dengan St. Valentine yang lain. St. Valentine ini adalah
seorang bishop (pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma.
Iapun dikejar-kejar karena memengaruhi beberapa keluarga Romawi dan
memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma
sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, bishop itu
mengirim surat kepada para putri penjaga-penjaga penjara dengan
mendoakan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih
sayang manusia. “Dari Valentine-mu” demikian tulis Valentine pada akhir
suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M sehingga tanggal
tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang.
Sebagai muslim, sudah pasti kita tidak akan punya andil dalam
melanggengkan apapun yang berbau Valentine ini. Tapi jelaslah mungkin di
sekeliling kita banyak banget yang siap-siap bikin Valentine jadi
begitu spesial. Terjadi setiap tahun.
Sebelumnya, memang sudah diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a
bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Kamu akan mengikuti sunnah
(kebiasaan) orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta
demi sehasta. Sehinggakan mereka masuk ke dalam lubang biawak (buaya)
kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah
yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” ( HR.
Bukhari dan Muslim).
Catatan:
Valentine selalu diidentikan dengan malaikat kecil bersayap yang
membawa panah cinta. Malaikat itu bernama Cupid (berarti: The Desire).
Konon, menurut kabar burung dari negeri dongeng, ia adalah putra Nimrod
“the hunter” Dewa Matahari. Cupid disebut juga Tuhan Cinta, karena ia
rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya
sendiri! [indah/dariberbagaisumber]
Sumber: http://islampos.com/valentine-oh-valentine-sejarah-dan-pandangan-dalam-islam






0 komentar:
Posting Komentar