/*releated post

Puasa dan Sakit

SAKIT bisa disebabkan berbagai macam hal, karena terlalu letih atau bisa jadi karena “terlalu banyak pikiran” atau penyebab lainnya. Bagaimana jika kita sakit saat bulan Ramadhan ?

Ada Rencana Lain YangLebih Indah

KECEWAKAH ketika hidup tak sesuai rencana? Dari pernyataan tersebut pasti akan jawab dengan tegas, jelas kecewa. Wajarlah bila manusia masih memiliki rasa kecewa. Namun rasa itu tak perlu ditanggapi secara berlebihan, mengapa?

Tokoh-tokoh Yahudi Yang Merusak Pemikiran (1)

SUATU ketika dalam diskusi di kantor Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), DR. Adian Husaini salah seorang cendekiawan muslim Indonesia menceritakan lawatannya selama 22 hari di Inggris. Ia menjelaskan

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

/*end related
Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Agustus 2012

Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (4)


“Wahai Anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari ahli kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat.” (Talmud Kitab Erubin: 2b edisi Soncino).
islampos.com–MEMANG tidak berlebihan ketika seorang Sarjana Yahudi bernama Dibre David begitu memendam kekhwatiran melihat ajaran agamanya. Menurutnya, Yahudi berada dalam posisi terancam. Bagaimana tidak, Yahudi adalah satu-satunya agama yang paling rasis diskriminatif ketika berbicara agama lain. Superioritas diatas ras menjadi pijakan yang membuat Yahudi berkembang menjadi agama “tanpa otak” ketika berbicara manusia. Bahwa telah menjadi rahasia umum teks-teks dalam Talmud begitu pongahnya kala menyentuh pembahasan goyyim (orang di luar Yahudi). “Jika mereka tahu ajaran kami, maka mereka akan membunuhi kami,” tandas Dibre.
Kekhwatiran Dibre David bisa jadi sangat beralasan, sebab Willie Martin dalam The History of Jewish Human Sacrifice mensinyalir ayat-ayat Talmud telah menjadi pemicu dibalik serangkaian ritual pembunuhan yang dilakukan oleh Yahudi. Bahkan Prof. Dr. Muhammad Abdullah Asy Syarqawi, Guru Besar Perbandingan Agama dalam bukunya Talmud: Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan menyimpulkan bahwa Talmud nyatanya tidak saja menjelaskan konsep utama mengenai spiritualitas Yahudi, tapi juga memprovokasi lahirnya kebencian tanpa dasar kepada orang-orang di luar Yahudi. “Apa boleh buat, kini buku karya para rabbi Yahudi ini sudah menjadi sebuah ‘Kitab Suci’ yang menjadi dasar agama dan pedoman hidup (way of life) bagi mereka. Dari buku ini mereka menyandarkan kesucian sikap dan hukum-hukum pergaulan mereka dengan pihak luar dan dalam Yahudi. Talmud sudah mempersembahkan kepada mereka sebuah surga jiwa yang abadi, yang menjadi rujukan secara serampangan sambil lari dari dunia luar (non Yahudi),” tegas Asy Syarqawi dalam pengantar bukunya.
Menurut Willi Martin, dengan mendasarkan diri bahwa hanya orang Yahudi yang pantas disebut manusia sedangkan kelompok lain adalah binatang, maka tak heran dalam Talmud beredar luas berbagai ayat yang menunjukkan begitu murahnya nyawa seorang non Yahudi. Diantaranya seperti beberapa ayat yang dikutip berikut ini:
“Diizinkan untuk mengambil tubuh dan kehidupan non-Yahudi.” (Sefer Ikkarim IIIC, 25)
“Ini adalah hukum untuk membunuh siapa pun yang menolak Taurat (Talmud – Sanhedrin 59B). “(Dan) Orang Kristen termasuk yang menolak Taurat (Talmud) ” Coschen Hamischpat 425, Hagah 425, 5).
“Setiap orang Yahudi, yang menumpahkan darah orang durhaka (non-Yahudi), sama dengan mempersembahkan kurban kepada Allah.” (Bammidber Raba, c 21 & Jalkut 772).
Keleluasaan Yahudi untuk membunuh orang-orang diluar kelompoknya semakin dimotivasi dengan kutipan beberapa ayat Talmud lainnya. Salah satunya adalah penyebutan derajat manusia non Yahudi yang sama hinanya dengan seekor hewan. Karenanya dengan hal ini Talmud hanya ingin berpesan: Yahudi tidak perlu risih apalagi menunjukkan penyelasan mereka sebagai manusia tanpa belas kasih!
“Orang-orang Yahudi disebut manusia, tetapi non-Yahudi bukanlah manusia. Mereka adalah binatang.” (Talmud: Baba Mezia 114b)
 “Para Akum (Negro) adalah seperti anjing Ya, Alkitab mengajarkan untuk menghormati anjing lebih daripada Akum itu.”  (Ereget Raschi EROD. 22
30)
“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)
“Meskipun Allah menciptakan non-Yahudi, mereka masih seekor binatang dalam wujud manusia. Hal ini tidak menjadikan seorang Yahudi sedang dilayani oleh
hewan. Oleh karena itu ia akan dilayani oleh binatang dalam bentuk manusia “(Midrasch Talpioth, hal 255,. Warsawa 1855).
“Orang non-Yahudi yang hamil, tidak lebih baik dari hewan yang hamil.” (Coschen Hamischpat 405)
 “Jiwa-jiwa non-Yahudi datang dari roh-roh najis dan disebut babi.” (Jalkut Rubeni gadol 12b)
“Meskipun orang-orang non Yahudi memiliki struktur tubuh yang sama seperti seorang Yahudi, namun jika dibandingkan dengan Yahudi, maka mereka bagaikan monyet dengan manusia.” (Schene Luchoth Haberith, hal. 250b)
Oleh karena itu, orang Yahudi tidak boleh lupa bahwa dalam setiap tarikan nafasnya mereka harus menyadari bahwa mereka tengah hidup diantara binatang. Baik ketika menyantap makanan:  ”Jika Anda makan dengan non-Yahudi, itu sama halnya dengan makan dengan anjing.” (Tosapoth, Jebamoth 94b). Menyambut kematian“Jika seorang Yahudi memiliki pembantu non-Yahudi dari pembantu tersebut meninggal, maka orang tidak boleh mengungkapkan rasa simpati untuk orang Yahudi itu, namun cukuplah Anda  memberitahu kepada orang Yahudi bahwa Tuhan akan menggantikan kerugian anda, “sama seperti jika salah satu dari lembu atau keledai itu telah meninggal.” (Jore Dea 377, 1). Maupun berhubungan seksual: “Hubungan seksual antara non-Yahudi adalah seperti hubungan dengan binatang.” (Sanhedrin 74b)
Dan fakta mengerikan dari “ayat-ayat setan” ini tidak hanya menggantung dalam teori-teori teologi Yahudi, tapi juga menjelma dalam praktik pembunuhan massal yang dieksekusi oleh orang Yahudi. Tahun 1917 adalah tahun sejarah kelam bagi umat Kristiani. Tak kurang dari 35 juta jiwa nyawa mereka melayang ditangan kepemipinan Orang-orang Yahudi pernah memberontak di Rusia pada tahun 1917 dan mendirikan Bolshevisme dibawah kepemimpinan Marxist Rusia seperti Leon Trotsky, Sinojeff dan tokoh-tokoh Yahudi lainnya. Para korban ditembak, disiksa, dan dibiarkan mati kelaparan. Dan di Hungaria, di bawah pimpinan seorang Yahudi Bolshevik bernama Bela Kuhn (1886-1938), sebuah pembantaian mengerikan telah disiapkan di mana puluhan ribu orang Kristen dibunuh.
Oleh karena itu, tepatlah hingga kini Yahudi merasa “berhak”memberondong anak-anak Palestina tanpa pernah merasa berdosa, merampas wilayah Palestina tanpa pernah sungkan bertanya siapakah pemilik sesungguhnya, membiarkan para tatawanan Palestina menderita sakit hingga kematian menghadapinya, “Karena Talmud,” tandas Prof. Asy Syarqawi ketika memberikan pengantarnya bukunya, “adalah inspirator utama bagi pergerakan zionisme di seluruh dunia.” [muhammadpizaronovelantauhidi/islampos]
BERSAMBUNG


Minggu, 19 Agustus 2012

Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (3)


Ritual Yahudi
“Tidak ada yang lebih baik dari merayakan Paskah dengan memakan Matzah.”
islampos.com–KATA-kata di atas mendadak heboh ketika Ido Kozikaro, seorang pemain Basket Tim Nasional Israel mempostingnya di Facebook pada April 2012 lalu. Kalimat tersebut tentu bukan sembarang kalimat, karena jika anda seorang peneliti Yahudi khususnya teologi, maka anda akan menemukan bahwa Matzah adalah sebutan bagi roti tradisional yang dimakan orang Yahudi selama perayaan liburan Paskah dengan bahan baku darah anak laki-laki Muslim dan Kristen. Jadi Matzah bukan sekedar makanan biasa, dia murni ritus Kabbalah yang sama sekali tidak pernah dibawa oleh ajaran Tauhid Nabi Musa as.
Lantas apa yang terjadi pasca Kozikaro memposting status kontroversial tersebut? Ia mendapatkan caci maki? Sumpah serapah disana-sini? Tentu tidak, karena orang-orang Yahudi paham betul maksud Kozikaro. Yang terjadi adalah Komentar status pria kelahiran 8 Januari 1978 sontak banjir dukungan. “Kami berharap untuk berbagi ini denganmu,” tegas salah seorang kerabatnya.
Ritual mengkonsumsi darah anak itu sendiri bukanlah barang baru bagi kelompok Yahudi. Ritual ini telah menjadi dogma yang membumi dalam kepercayaan Kabbalah ribuan tahun lamanya. Meminum darah adalah simbol keperkasaan, kekuatan, hingga kebanggaan bagi seorang Yahudi. Tidak jarang ritus meminum najis ini mendapatkan legitimasi imani yang berangkat dari doktrin bible. Thomas of Cantimpré (1201-1271), seorang Teolog Katolik Roma yang juga Profesor Filsafat kenamaan Gereja pernah menulis secara khusus terkait hal ini. Ia mengatakan adalah sangat meyakinkan bahwa orang-orang Yahudi di tiap tahunnya mengumpukan darah-darah orang Kristen untuk para jema’at Yahudi. Karenanya tidak heran dalam injil Mathius termaktub sebuah ayat persembahan darah seorang anak Kristen. “Darahnya adalah tanggungan kami, dan anak-anak kami” (Matius 27:25).
Injil Matius sendiri menempati urutan pertama dalam Perjanjian Baru dan dianggap kitab paling berbau Yahudi. Injil ini murni dibentuk oleh wolrdview Yahudi baik dalam teks maupun spirit dibaliknya. “Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi,” beber A. Tricot, seorang pakar Bible.

Hingga kini kita ketahui bersama banyak anak Palestina diculik dan dibunuh oleh tentara Yahudi. Tengah malam buta, para tentara menjemput paksa mereka untuk digiring menuju ke penjara. Ironisnya mereka pun tidak pernah mendapatkan keadilan dalam proses persidangan. Tuduhan demi tuduhan sengaja dibuat oleh para tentara  dari mulai menganggu keamanan Israel hingga melempar batu  ke wajah tentara semata-mata sebagai alibi untuk menahan anak-anak Palestina. Hal inilah yang terjadi pasca Intifadah pertama tahun 1987-1993. Nasib ribuan anak Palestina tidak pernah dapat diindentifikasi dan menghilang bak ditelan bumi. Tanpa memiliki rasa belas kasih, Rabi Yahudi bernama Yitzhak Shapiro justru menyatakan bahwa pembunuhan terhadap anak-anak Palestina, bahkan bayi sekalipun adalah tindakan sah. “Tidak ada sesuatu yang salah terhadap pembunuhan itu,” tegasnya dalam bukunya The King’s of Torah.

Menurut sejumlah kesaksian, sepanjang sejarah manusia, Yahudi biasa menculik anak-anak atau para pemuda non-Yahudi atau yang mereka sebut Goyim  dan menjadikan mereka “tumbal” untuk ritual pembunuhan pelan-pelan yang menyakitkan dengan luka yang biasanya 33 luka tidak mematikan, membiarkan darah mereka menetes hingga korban itu meninggal dunia.
Bukti keterlibatan ritual sebagai otak dibalik pembunuhan anak-anak dan remaja muslim kian diteguhkan oleh  Dr Umayma Ahmad Al-Jalahma dari Raja Faisal University. Ahad, 10 Maret 2002, Dr Al Jalahma sempat membuat heboh ketika menulis artikel berjudul “The Jewish Holiday of Purim” di harian Al Riyadh, sebuah harian terkemuka milik pemerintah Saudi. Artikel yang menyoroti kebiadaban ritual Yahudi di Ar Riyadh ini tentu menjadi sangat luar biasa. Terlebih hubungan Arab dan Amerika sempat menegang pasca serangan 11/9 2001. Dalam dua bagian, Dr Al Jalahma menyoroti secara khusus ritual dalam Pesta purim ketika para pemuda muslim dan Kristen menjadi tumbal ajaran sesat Yahudi. Metodenya pun sangat mengerikan. Ia menulis,
“Mari kita memeriksa bagaimana darah para korban ditumpahkan. Untuk hal ini, sebuah jarum digunakan untuk mengucurkan darah ke dalam tong yang seukuran tubuh manusia. (Jarum ini) menembus tubuh korban.. dan darah korban mulai menetes dengan lambat. Dengan demikian, korban menderita siksaan yang mengerikan – siksaan yang memberi kenikmatan para vampir Yahudi karena mereka sangat hati-hati memantau setiap detail dari darah yang tumpah dengan kesenangan dan cinta yang sulit untuk dipahami.”
Ironisnya, setelah “pertunjukan” ini selesai dilaksanakan, para rabi Yahudi betul-betul membuat ummat-Nya bahagia di masa liburan mereka. Ia melayani jema’atnya secara syahdu dengan hidangan kue-kue di mana darah dan manusia telah menyatu.
Ritual Bangsa Kera
Dr. Al Jalahma menyatakan metode pembunuhan yang digunakan untuk anak-anak dan pemuda ini pun berbeda-beda. Setidaknya penghabisan nyawa lewat jarum hanyalah satu metode diantara metode lainnya. Selain itu para rabi Yahudi juga biasa membunuh korbannya dengan cara menyembelih leher korban. Ia melanjutkan,

“Ada cara lain untuk menumpahkan darah yaitu darah korban dapat disembelih layaknya domba disembelih, dan darahnya dikumpulkan dalam sebuah wadah. Atau, pembuluh darah korban bisa dibelah dibeberapa tempat membiarkan menguras darahnya dari tubuhnya, dan mereka membiarkan darah para korban terkuras dari tubuhnya… Darah ini sangat hati-hati dikumpulkan oleh para ‘rabbi, pendeta Yahudi,dan seorang koki yang mengkhususkan diri untuk mempersiapkan berbagai jenis kue.”
Ya sebuah data mengerikan mengenai kasus pembunuhan seorang anak demi tumbal bernama ritual Yahudi. Kisah pilu nasib anak-anak muslim Palestina hingga kini terus menjadi luka yang entah kapan bisa terobati. Anak Palestina, Libanon, Suriah, atau bahkan anak kita mungkin hanya menunggu waktu yang pada gilirannya akan menjadi korban berikutnya dalam perayaan-perayaan Yahudi. “Karena ini bagian dari perintah agama kami!” kilah Rabbi Yitzhak Shapiro, secara jujur dalam bukunya The King’s of Torah. [muhammadpizaronovelantauhidi/islampos]


Kamis, 16 Agustus 2012

Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (2)


Ritual Yahudi | Islampos | Berita Islam Terkini
islampos.com–“JIKA bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) tahu apa yang kita ajarkan terhadap mereka, mereka akan membunuh kami,” (Dibre David, Sarjana Yahudi).
Sabtu, 29 Januari 2011 rakyat Kota Sevastopol, Ukraina dibuat geger. Dua tubuh gadis belia berusia 10 dan 11 tahun ditemukan tergeletak tanpa nyawa. Dua korban ini dikabarkan menghilang sejak 4  Januari 2011 dan belum juga diketemukan hingga berminggu-minggu kemudian. Koran-koran Ukraina sempat mengabarkan kepergian dua gadis belia ini. Para polisi pun sibuk lalu-lalang mencoba menemukan jasad korban. Anak-anak digeledah dan foto kedua korban secara teratur ditampilkan rutin pada layar kaca. Setiap hari, puluhan peserta forum Sevastopol berkumpul disiang hari pada pusat perbelanjaan Ocean. Dengan kelompok kecil, mereka menyisir tiap wilayah dan memasang foto korban di tiap dinding. Akan tetapi, semuanya sia-sia hingga seekor anjing mencium bau di tengah kota ketika dibawa pemiliknya keluar rumah.
Kejadian inipun kemudian berbuntut panjang. Pihak ahli mengatakan tubuh korban ditemukan dalam kondisi tidak wajar. Bahwa bekas luka pisau menunjukkan mereka mulanya dilukai secara perlahan, dan kemudian dibunuh dengan tusukan pisau dengan intensitas satu hingga dua kali. Kedua tubuh korban pun juga terbelah menjadi empat bagian. Suatu tindak pembunuhan yang aneh untuk ukuran orang dewasa sekalipun.
Belum reda keterkejutan masyarakat atas aksi keji ini, Vitaly Kharamov Pemimpin masyarakat Cossack Crieman mulai memberikan titik terang siapa dalang dibalik pembunuhan sadis ini. Dalam kesimpulannya, modus pembunuhan dengan cara mematikan korban perlahan-lahan lewat tusukan ke tubuh korban hanya dapat dijumpai dalam ritual Yahudi. “Luka pisau pertama merupakan luka kecil, yang khas dengan tipikal untuk Talmud atau ritual kabbalistik, metode ini digunakan untuk menghilangkan darah korban,” tandasnya seperti dilansir kantor berita Ukraina, New Region.
Rupanya ini bukanlah kejadian pertama yang menimpa negara di bagian Timur Eropa itu. Pada tanggal 3 Desember 2009, beberapa laman web dari Ukraina juga menampilkan fakta kasus penyelundupan 25.000 anak-anak warga Ukraina ke negara Israel. Tindakan tak berperikemanusiaan ini dipercayai bertujuan mengambil organ-organ anak-anak tersebut. Pengungkapan kasus ini dilakukan oleh beberapa orang ahli akademik Ukraina dalam satu persidangan yang berlangsung di Kiev, Ukraina. Isu ini juga timbul selepas berita dari tabloid Sweedia memunculkan isu pembunuhan warga sipil Palestina oleh tentera-tentera Israel guna mengambil organ tubuh mereka.
Ketika kita berbicara pembunuhan dalam doktrin Yahudi, maka kita tidak boleh melepaskan diri dari teologi Yahudi. Dari situlah ritual itu muncul bahkan dianjurkan. Willie Martin, seorang pengamat Sejarah Yahudi, menuding bahwa hukum-hukum rahasia Yahudi yang didasarkan pada prinsip dasar yang menyatakan: Hanya orang Yahudi adalah manusia menjadi dalang serangkaian aksi ritual kematian Yahudi. Bahwa semua non-Yahudi adalah binatang dan binatang boleh dimatikan. Konsekuensi logis dari kepercayaan ini makan Teologi Yahudi membuka ruang baginya untuk mencapai tujuan dengan segala cara. Persis seperti doktrin Machiavelli. “Orang Yahudi mungkin berbohong, menipu dan mencuri dari orang non Yahudi. Mereka mungkin memperkosa dan membunuh,” tegasnya ketika menulis The History of Jewish Human Sacrifice.
Jauh sebelum Willie Martin mengungkapkan fakta-fakta mengerikan tersebut, Herodotus seraong Sejarawan terkemuka di zaman Yunani Kuno sudah mengingatkan akan  bahaya ajaran Yahudi. Orang yang hidup pada abad keempat sebelum masehi ini digadang-gadang sebagai sejarawan pertama sekaligus peneliti adat pembunuhan Yahudi. Dalam tulisannya di Vol II halaman 45, Herodotus menemukan fakta bahwa telah menjadi kebiasaan ketika orang Yahudi mengorbankan para manusia untuk Dewa Molokh. Adat ini menjamur di berbagai umat Yahudi sebagai ritual yang harus dijalani. WRF Browning dalam Kamus Alkitab-nya menyebutkan bahwa Molokh adalah dewa yang menjadi muara persembahan korban anak-anak di Tofet dekat Yerusalem. Meski berisi ritual yang diluar keimanan, ajaran Molokh sangat berkembang pesat di Wilayah Kanaan kuno dan sulit dibasmi oleh siapapun. Hal ini pun termaktub dalam Alkitab.
Bangsa-bangsa Kanaan mengorbankan bayi kepada dewa-dewa mereka sebagai bagian dari ritual keagamaan mereka. Perbuatan tercela ini dengan tegas dilarang oleh Allah (bd: Im 20:2-5; Yer 32:35)
Hal sama juga pernah ditemukan pada tahun 169 SM. Flavius Yosefus (37 M-Meninggal Abad 2 M), seorang ahli sejarah Yahudi dalam Againts Apion yang merupakan buku terbaik mengenai sejarah Yahudi mengetengahkan kisah ketika Raja Antokius Epifanes dari Syria mendapati seorang Yunani tengah mengumpat di sebuah kamar rahasia. Orang Yunani ini meminta sang Raja untuk menolong nyawanya. Alasan korban memang logis. Saat itu ada sebuah hukum berlaku bagi orang Yahudi untuk mengorbankan manusia pada waktu-waktu  tertentu di tiap tahunnya. Karenanya, mereka mencari orang asing yang bertujuan membuat tubuh mereka bugar. Jalannya sangat mengerikan. Yosefus menceritakan calon korban akan digelangan terlebih dahulu masuk ke dalam hutan. Ketika mereka tengah berada di hutan, maka orang-orang Yahudi ini akan memakan daging mereka. Sedangkan beberapa darah yang keluar akan menjadi jamuan minum mereka. Ironisnya, tanpa ada rasa bersalah terlebih dosa, sisa-sisa tubuh para korban terbuang ke dalam sebuah lubang. Sekali lagi kita harus ingat, bahwa dalam doktrin Yahudi kelompok ghoyyim adalah binatang. Dan binatang tidak pantas diperlakukan sama dengan manusia sempurna.
Raja Antokius Epifanes memang terkenal otoriter terhadap Yahudi. Sejak tahun 175 SM, ia banyak mengeluarkan kebijakan melarang praktik-praktik keagamaan Yahudi. Hingga pada tahun 167 SM, Matatias, bersama-sama dengan anak-anaknya yang lain, seperti Yehuda, Eleazar, Simom, dan Yonatan, mulai melancarkan aksi pemberontakan terhadapnya. Setelah kematian Matatias pada 166 SM, Yehuda mengambil alih pimpinan pemberontakan itu sesuai dengan pesan ayahnya sebelum meninggal dunia. Kitab 1 Makabe memuji keberanian dan bakat kemiliteran Yehuda, mengatakan bahwa sifat-sifat tersebut membuat Yehuda sebagai pilihan yang tepat untuk menjadi panglima yang baru. Nafsu Yahudi menggoyang kedudukan Antokius memang dipicu muatan teologis agar Yahudi bisa demikian bebas menjalankan segala ajarannya.
Kejadian demi kejadian pembasmian bangsa Non Yahudi dengan dalih ritual terus berlangsung hingga di abad-abad awal masehi. Pada tahun 418 Masehi, kabar menyeruak bahwa seorang anak laki-laki telah disalib oleh orang Yahudi. Kejadian ini berlangsung antara Aleppo (Suriah) dan Antokia (Turki). Satu tahun berikutnya antara Chalcis dan Antiokhia, kembali dilaporkan bahwa orang Yahudi telah mengikat anak laki-laki di kayu salib pada hari libur dan dicambuk hingga mati. Enam abad berikutnya, tepatnya pada tahun 1071 M, beberapa Yahudi dari Blois menyalib seorang anak selama perayaan Paskah. Tubuh anak itu diletakkan ke dalam karung dan dilemparkan ke dalam sungai. (Robert dari Mons, Senin Germ.. Versi. Script VI 520).
Dan yang paling menyeramkan terjadi di Norwich pada tahun 1114 Masehi. Seperti termuat dalam dokumen Acta Sancta, bahwa selama perayaan Paskah, St William telah diikat oleh orang Yahudi lokal. Ia digantung dari salib, dan darahnya terkuras dari luka di sisinya. Orang Yahudi menyembunyika mayatnya di sebuah hutan. Dan proses ritual seperti itu masih terjadi sekarang ini. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG




Selasa, 14 Agustus 2012

Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (1)

Ritual Yahudi | Islampos | Berita Islam Terkini
islampos.com–TIDAK ada kata yang pas selain menyebut Yahudi sebagai bangsa purba.”  (Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris)
Mungkin Yahudi adalah salah satu agama dimuka bumi ini yang menjadikan pembunuhan dan kematian sebagai jalan penyatuan hidup bersama Tuhan. Pembunuhan dan darah adalah dua kata yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Yahudi dari zaman batu hingga masa kini. Jika setiap hari anda menyaksikan kengerian dan kebrutalan dari pembantaian yang dilancarkan zionisme Yahudi di muka bumi ini, ketahuilah bahwa nenek moyang mereka telah memulainya ribuan tahun lamanya.
Adalah sejarawan terkemuka Yahudi, Josef Kastein (1860-1946), dalam bukunya History of Jews yang mengatakan bahwa yang menjadi dasar ritual pembunuhan bangsa yahudi karena menurut pandangan kaum Yahudi darah adalah tempat jiwa bersemayam.
Kaum  Yahudi zaman dahulu menjadikan darah orang Kristen untuk dikeluarkan dari tubuhnya lalu diminumnya. Mereka percaya bahwa dengan meminum darah tersebut, mereka akan meraih apa yang mereka inginkan. Mulai dari tubuh yang sempurna hingga otak yang memiliki kecerdasan segalanya. “Because of this belief, the Jews are known to have practiced drinking blood since they made their first appearance in history,” tandas Willie Martin dalam tulisannya The History of Jewish Human Sacrifice.
Ritual yang dilaksanakan kaum Yahudi ini pun sangat mengerikan dan menakutkan. Satu orang korban bisa dibunuh secara bergerombol di tempat keramaian. Ada pula korban yang diikat tangannya, dan sebuah benda tajam mulai mencincang leher mereka. Tidak sedikit pula perut para korban digunting untuk mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Deras darah tersebut akan ditadah sebagai persembahan dalam jamuan ritual Yahudi. Tanpa ada gurat penyesalan atas matinya korban, para rabbi Yahudi tersebut malah sibuk mengeringkan darah untuk kemudian dituangkan ke dalam bejana berisi anggur dan roti. Dengan jemari kirinya, seorang Pendeta Yahudi akan mengaduk-aduk berbagai campuran yang sudah dimasukkan sambil membaca mantera  “Dam Issardia chynim heroff Jsyn prech harbe hossen mashus pohorus,” (EROD, VII, 12) yang artinya “Kami mohon agar Tuhan mau menurunkan sepuluh wabah atas semua musuh agama Yahudi (termasuk Islam).”
Kekejeman demi kekejaman seperti ini amat dimungkinkan oleh mereka, karena Yahudi adalah agama yang menganut teologi permusuhan. Maka tak heran, dalam melaksanakan ritualnya para pendeta Yahudi akan berdoa agar para goyim diberikan tempat di neraka. Ghoyim sendiri adalah orang-orang yang berada diluar agama Yahudi. Mereka beranggapan Ghoyim adalah makhluk najis bahkan lebih hina dari binatang seperti termaktub dalam ayat-ayat Talmud: “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit,” (Orach Chaiim 57, 6a). “Orang-orang Yahudi  disebut manusia, tetapi non-Yahudi tidak tergolong manusia. Mereka adalah binatang,  (Talmud:  Baba  Mezia 114b)
Setelah mengucapkan mantera tersebut, sang Pendeta akan terlihat menangis. Tangisan haru yang tentu ditujukan bukan untuk mengasihi kita orang Islam yang menurut mereka akan dicemplungkan ke dalam api neraka neraka, namun tangisan itu lebih untuk menunjukkan pelampiasan emosional mereka dalam menjalani ritual.
Pesta Paskah Yahudi sendiri hanyalah satu dari kesekian festival yang dijadikan hari dimana ritual meminum darah dilakukan. Ia adalah perayaan yang diselenggarakan pada hari ke-14 dalam bulan yang disebut  Nisan  (Imamat 23:4Bilangan 9:3-5Bilangan 28:16) atau bulan pertama kalender Ibrani selama delapan hari. Festival ini berakhir pada hari ke-21 Nisan di Israel, dan hari ke-22 Nisan di luar Israel dan dirayakan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Selama seminggu itu hanya roti yang tidak beragi yang boleh dimakan, sehingga hari-hari itu juga disebut Hari Raya Roti Tidak Beragi.
Tua, muda, balita semuanya menjadi korban dari implementasi ajaran kabbalah tersebut. Tidak ada sejarah pasti sejak kapan ritual pembunuhan mulai rutin dilakoni Yahudi, namun Willie Martin menjelaskan usia dari ritual ini hampir sama tuanya dengan orang Yahudi itu sendiri.
Selain Festival Paskah, Festival yang menjadi pelampiasan ritual pembunuhan Yahudi adalah Festival Purim. Festival ini adalah sebuah pesta kaum Yahudi yang dirayakan pada tanggal 14 dan 15 Adar (terakhir berlangsung 20 Maret 2011).  Pesta diselenggarakan dalam rangka peringatan atas pembebasan bangsa Yahudi oleh Mordekhai dan Ester di bawah raja Persia Ahasyweros. Dalam perayaan ini, banyak hal-hal unik dapat ditemui. Salah satunya adalah penampilan berbeda para pria Yahudi orthodox yang biasanya memakai busana hitam-hitam, begitu juga dengan para wanitanya.
Sehari sebelum Festival Purim dilaksanakan, para Yahudi ini larut dalam doa dan puja-puja kepada Tuhan-tuhan mereka. Tidak sedikit dari mereka juga menjalani puasa. Namun tidak ada yang tahu bahwa tersimpan cerita hitam dibalik perayaan yang memaksa Pemerintahan Israel kerap menutup jalur Gaza dan Tepi Barat ini.
Adalah Dr. Arnold Sepencer Leese (1878–1956), seorang Cendekiawan Barat yang sukses menyingkap kabut misteri Festival Purim yang teramu dalam bukunya, Jewish Ritual Murder. Dalam bukunya, Dr. Leese menceritakan kisah seorang pendeta Kristen asal Italia bernama Francois Antoinne Thomas yang bepergian ke Suriah guna melakukan  kerja amal kepada masyarakat setempat. Pada 5 Februari 1840, ia telah diminta oleh penduduk sebuah perkampungan Yahudi untuk mendermakan obat-obatan kepada Anak-anak di sekitat situ.
Saat pulang, Thomas berkenalan dengan seorang Yahudi yang bernama Daud Hariri dan memenuhi permintaan Daud untuk singgah di rumahnya. Tanpa mengetahui, undangan itu ternyata hanyalah sebuah satu perangkap. Di rumah Daud telah siap  beberapa orang Yahudi menunggu kedatangan Thomas.
Mereka adalah bapak-saudara Daud, 2 orang adik dan 2 orang Rabbi. Tanpa belas kasihan, kaki dan tangan Thomas diangkat,  mulutnya disumbat dengan sehelai sapu tangan.
Setelah hampir senja, seorang tukang gunting rambut bernama Sulaiman (seorang Yahudi) dipanggil untuk membantai Thomas. Tukang gunting itu agak takut-takut tetapi Daud sendiri mengeluarkan pisau lantas ikut terlibat sambil dibantu oleh Harun, Hariri, adik Daud.
Darah Thomas ditempatkan dalam sebuah tempat kemudian diberi kepada Rabbi Yaakub al-Antabi untuk diteruskan dalam sebuah acara. Rabbi Yaakub menyapu darah segar itu pada roti suci dan dipuja untuk hidangan Festival Purim yang bakal berlangsung pada 14 Februari 1840.
Mayat Thomas kemudian dipotong kecil-kecil  dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selepas itu mereka menunggu pula kedatangan pembantu Thomas,  Ibrahim Ammar yang datang untuk mencari keberadaan Thomas. Naas, Ibrahim menerima nasib serupa. Ia menjadi korban upacara Festival Purim yang ditunggu-tunggu golongan Yahudi itu.
Kasus inipun kemudian memancing perbincangan besar-besaran di masyarakat Eropa, Amerika, dan dunia Arab. Itu hanyalah satu kasus. Karena beberapa korban Purim lainnya juga mengalami nasib tragis. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG


Cara Anak Yahudi Belajar Tentang Palestina



Anak Yahudi
islampos.com—SELAMA ini, media massa internasional mengatakan bahwa anak-anak kecil Palestina sudah dilatih “kekerasan” sejak dini.
Pernyataan itu didukung oleh foto-foto yang menggambarkan anak-anak kecil Palestina tengah menenteng senjata.
Anak-anak Palestina itu disebut sebagai calon teroris dan sebagainya yang menggambarkan kekejaman umat Islam.
Kenyataan yang sebenarnya, anak-anak Palestina memang dikondisikan untuk bisa mempertahankan diri dari serangan Zionis Israel yang dengan sekonyong-konyong bisa datang kapan saja dan melakukan pembunuhan. Seperti yang terjadi pada peristiwa Gaza, Januari silam. Lagipula, senjata yang dipergunakan oleh anak-anak Palestina lebih banyak menggunakan batu atau ketapel.
Nah, bagaimana dengan anak-anak Yahudi sendiri? Media massa terus-terang tak banyak yang meliput aktivitas anak-anak kecil Yahudi. Bahkan sejak dari kecil, anak-anak Yahudi ternyata sudah diajari untuk menembak. Mereka mempunyai jam khusus untuk pelatihan yang rutin diadakan.
Di sekolahpun, dalam beberapa mata pelajaran, anak-anak Yahudi sudah dibiasakan untuk menganggap orang Palestina sebagai musuhnya. Misalnya saja, dalam pelajaran Matematika, anak-anak kecil Yahudi kerap diajarkan, “Jika ada anak Palestina berjumlah 10 orang, kamu tembak mati satu orang, berapa sisanya?” [sa/poj/islampos]



Senin, 13 Agustus 2012

Yahudi di Asia; Di Mana Bermuara?


islampos.com—SEBUAH  buku bestseller di Cina “The Currency War” menggambarkan bagaimana Yahudi menguasai dunia dengan memanipulasi sistem keuangan dunia. Buku ini dibaca di kalangan politik elit pemerintahan Cina.
Konsiprasi Yahudi di Asia sudah menjadi lagu lama. Jepang sudah lama terperangah dengan buku-buku seperti “To Watch Jews Is to See the World Clearly,” “The Next Ten Years: How to Get an Inside View of the Jewish Protocols,” and “I’d Like to Apologize to the Japanese: A Jewish Elder’s Confession.” Semua buku ini sebenarnya merupakan variasi dari “The Protocols of the Elders of Zion.”

Cina sejak lama mengadopsi cara modern Jepang. Mungkin inilah gambaran bagaimana konspirasi Yahudi berlangsung selama ini.
Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad mengatakan, “Yahudi menguasai dunia dengan kuasa penuh. Mereka membuat orang berkelahi satu sama lain, dan saling bunuh.” Dan Yahudi selalu saja menyetir semua negara di dunia, terutama AS.
Khusus Mahathir, solidaritas Islam di negaranya mungkin kuat. Tapi di negara lain, tidak. Tak ada satupun orang Cina atau Jepang pernah menyalahkan Yahudi atas pembunuhan anak-anak di Passover. Salah satu yang membuat mereka bersikap seperti itu karena mereka tidak pernah melihat orang Yahudi di negara mereka, kecuali jika mereka pergi ke luar negeri.
Jadi apa yang bisa membuktikan konspirasi Yahudi? Jawabannya adalah politis. Jepang bukan lagi masyarakat yang tertutup, bahkan orang yang hanya sedikit tahu tentang demokrasi pun sadar bahwa masyarakat Jepang merupakan korban sebuah kekuasaan yang tak terlihat.

 Jepang memang tak pernah secara resmi terjajah, tapi pernah merasakan dominasi Barat, setidaknya pada dekade 1850-an, ketika AS pertama kali menjejakkan kakinya di perbatasan mereka.
Sementara Cina, telah lama menderita karena Yahudi yang menetap di Barat. Cina dikeluarkan tanpa ampun dari berbagai pengakuan dan perdagangan internasional. Mereka juga tidak pernah dianggap ketika berhasil menjadi negara yang banyak menciptakan uang. Tapi ketika sedikit saja ada yang salah, orang Cina disalahkan, bahkan menuduhnya sebagai komunis.
Namun, orang Cina adalah orang-orang yang pintar. Tidak seperti orang Jepang yang terus-terusan menghiba kepada Zionis (Jepang bisa menaklukan Rusia setelah Yahudi turut campur).

Sepanjang Perang Dunia II, ketika Jerman meminta Jepang untuk menyerahkan bangsa Yahudi, negara Matahari Terbit itu setiap malam mengadakan jamuan makan malam dengan Yahudi. Yahudi lari ke Shanghai, dan bersembunyi aman dalam lindungan Jepang. Sampai sekarang, konspirasi Yahudi bermula dari sini. [sa/islampos/jp]

Sumber: islampos.com


Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (5)


“Apabila seorang Yahudi membutuhkan hati, lalu apakah boleh diambilkan hati dari tubuh orang non Yahudi yang tidak berdosa demi menyelamatkan seorang warga Yahudi ? Taurat sangat mungkin memfirmankan bahwa perbuatan seperti itu adalah kosher (halal)”
Kata-kata di atas diucapkan oleh Rabbi Yitzhak Ginsburgh dan dilansir oleh media terkenal Israel, The Jewish Week, pada Jum’at, 26 April 1996. Nama Ginsburgh tentu bukanlah nama yang asing di kalangan Yahudi. Pria kelahiran tahun 1944 ini terkenal sebagai seorang Rabi Amerika yang lahir di Israel. Buku-bukunya pun tersebar luas di kalangan Yahudi menjadi rujukan untuk mendalami agama Yahudi  seperti Adamah Shamayim Tehom, (1999) Ahava (2010) Al Yisrael Ga’avato  (1999)  Ani L’Dodi (1998) Kumi Ori (2006) Lahafoch Et Hachoshech L’ori (2004) dan masih banyak lagi.
Pernyataan Ginsburgh tersebut tentu menjadi kontroversial karena dikeluarkan untuk menjawab polemik seputar hukum menggunakan organ tubuh “manusia” di luar Yahudi. Penulis sengaja mengapit tanda kutip karena selama ini sejumlah literatur Yahudi sudah kadung memvonis bahwa orang non Yahudi lebih hina daripada babi yang sakit. Akan tetapi, jawaban Ginsburgh ternyata diluar perkiraan umat Yahudi pada umumnya. Dengan lantang, dekan sebuah Sekolah Agama Yahudi di Israel ini memberikan fatwa boleh dalam kasus ini. Ginsburg beralasan nyawa seorang Yahudi memiliki nilai yang tiada terkira. Maka, keselamatannya boleh diperjuangkan meski harus mengambil organ tubuh orang non Yahudi. Sekali lagi orang non Yahudi: “Karena Yahudi lebih suci dan unik dibanding dengan nyawa bangsa lain,” tandas Ginsburg.
Meski kebanyakan warga Israel menolak pandangan seperti ini, namun Rabbi Moshe Greenberg yang ahli tentang pandangan-pandangan kitab-kitab suci Israel, justru memperkuat alibi Ginsburg. Ia  menyatakan bahwa pemanfaatan organ tubuh seorang goyyim -suka tidak suka- memang dibolehkan karena firman-firman Yahudi mengamini itu. Lebih jauh Profseor dalam Hebrew University ini, seperti dikutip oleh Abdi Al Haqq dalam bukunya Israel Menjarah Organ Tubuh Muslim Palestina, menyatakan bahwa firman-firman kitab suci seperti itu murni masuk secara teoritis dalam kitab-kitab tersebut, karena pada waktu itu umat yahudi memang tidak kuasa untuk melaksanakannya. Namun, saat ini menurutnya hukum tersebut masih berlaku tidak saja ketika Yahudi sudah memiliki negara, namun ketika sudah kuat sekalipun.
Rupanya fakta yang selama ini ditutupi Yahudi satu per satu mulai muncul ke permukaan. Sikap cuci tangan Israel atas tuduhan pencurian organ tubuh muslim Palestina pun menjadi sangat naïf untuk didengar. DR. Yehuda Hiss, Direktur Kamar Mayat Israel antara tahun 1988 hingga 2004 menjadi salah satu Tokoh yang dianggap bertanggung jawab atas misteri yang menimpa organ tubuh muslim Palestina. Nasib pilu mesti dialami rakyat Palestina karena mereka tidak saja dizalimi, dibunuh, tapi mayatnya juga harus menjadi “tumbal” demi kepentigan Yahudi.

Pada tahun 2000, koran Israel Yediot Ahronot sempat memuat laporan hasil investigasi yang mengungkapkan bahwa DR Yehuda Hiss kedapatan kerap mencopot organ tubuh tanpa izin. Mayat syuhada Palestina tersebut diisi dengan gagang sapu dan kapas yang dipotong-potong sebelum penguburan. DR Yehuda Hiss kemudian dituding terlibat dalam penjualan organ tubuh manusia yang terdiri dari kaki, paha, indung telur, payudara, hingga (maaf) buah zakar. Namun uniknya meski fakta demikian terang benderang hampir tidak ada tindakan yang dilakukan Pemerintah Israel atas fakta tersebut. Semakin kuat Israel memungkiri tindakan kejinya, semakin bukti berdatangan untuk memperkuat realita itu. Keluarga korban pun menuntut pertanggungjawaban dengan menyeret Israel ke Mahkamah internasional

Sebuah tayangan video berdurasi 57 menit akhirnya berhasil mengungkap bagaimana DR. Yehuda Hiss memberikan “restu” untuk mencuri organ-organ tubuh, memberikan instruksi kepada para dokter untuk melakukan hal tersebut, dan terkadang dia sendiri yang melakukan pencurian organ tubuh. “Kami tidak akan mencongkel seluruh bagian bola mata, kami hanya akan memotong bagian kornea mata kemudian menutup kembali mata (jenazah),” kata Hiss dalam video itu. Israel murka, dan mengancam akan memperkarakan tiap wartawan yang mengangkat kasus itu.
Kasus pencurian organ muslim ternyata tidak saja terjadi di Palestina. September 2009, Amerika pernah dibuat gempar atas penangkapan seorang Rabi Yahudi do Amerika yang merupakan pimpinan mafia internasional perdagangan organ manusia dan penculikan anak-anak dari Aljazair oleh pihak kepolisian New York.
Pria Yahudi yang di tangkap tersebut merupakan salah satu dari sindikat yang terlibat dalam isu perdagangan organ yang terungkap baru-baru ini. Dr. Mustafa Khayati, direktur Komisi Nasional Aljazair untuk Peningkatan Kesehatan dan Pengembangan Penelitian, kepada harian “al Khabir” Aljazair, mengatakan, “Penangkapan mafia ini terjadi setelah penyelidikan Interpol menunjukkan bahwa anak-anak Aljazair diculik dari kota-kota barat Aljazair dan dibawa ke Maroko, untuk diselundupkan ginjal mereka ke “Israel” dan Amerika Serikat; dijual dengan harga antara 20 ribu dan 100 ribu dolar untuk setiap satu ginjalnya.”
Khayati menjelaskan geng ini sengaja menculik anak-anak dari Aljazair kemudian dilakukan operasi terhadap mereka di Maroko, sebelum diekspor dan dijual di entitas Zionis Israel dan Amerika Serikat. Para dokter yang aktif dalam masalah ini dibekali dengan peralatan yang diperlukan untuk melakukan operasi jenis ini. Tidak dijelaskan kapan terjadinya penangkapan seorang Yahudi Amerika yang memimpin aksi pencurian organ anak-anak Aljazair tersebut. Khayati menjelaskan bahwa penangkapan jaringan yang dipimpin oleh orang Yahudi ini tidak berarti bahwa bahaya telah berlalu; para spesialis dan pengamat ini menegaskan bahwa ada kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang masih aktif di beberapa negara Arab.
Saetelah kasus ini menyeruak dikabarkan bahwa pemerintah AS meringkus sebanyak 44 orang, di antaranya adalah para Rabi Yahudi dan dan para pemimpin kota di wilayah New Jersey, setelah mereka dituduh terlibat dalam kegiatan pencucian uang dan penjualan organ tubuh manusia.

Kasus tidak berhenti disitu. Harian terkemuka Swedia, Afonbladet sempat membuat berang Israel ketika menaikkan artikel berjudul “Mereka Merampas Organ Tubuh Anak-Anak Kami.” Dalam artikel itu disebutkan bahwa tentara-tentara Zionis menculik anak-anak muda Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Anak-anak muda itu dikembalikan lagi pada keluarganya dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi tubuh yang tidak lagi utuh.

Seorang lelaki Palestina asal kota Nablus, pada wartawan Aftonbladet mengaku bahwa kerabatnya dijadikan donor organ tubuh secara paksa oleh tentara-tentara Zionis. Tidak sedikit warga Palestina menjadi korban atas aksi biadab pasukan Zionis tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Selain itu Aftonbladet juga membeberkan peristiwa yang terjadi tahun 1992, ketika seorang aktivis muda Palestina ditangkap oleh tentara Zionis di kota Nablus. Aktivis itu ditembak di bagian dada, di perut dan di kedua kakinya kemudian dibawa ke tempat yang tidak diketahui oleh tentara-tentara Zionis itu.
Jenazah pemuda Palestina bernama Bilal itu baru ditemukan lima hari kemudian dalam kondisi mengenaskan. Menurut Aftonbladet, saat ditemukan, kondisi Bilal saat menyedihkan. Luka menganga di bagian dadanya menjadi bukti penyiksaan macam apa yang telah dialami Bilal.
Hingga kini para Rabi Yahudi mengklaim bahwa tindakan itu adalah sah bagi Israel. Mereka menilai Yahudi memiliki hak untuk melakukan pembunuhan atau penjualan organ tubuh muslim palestina dan anak-anak muslim lainnya dimanapun mereka berada. “Setiap orang Yahudi, yang menumpahkan darah orang durhaka (non-Yahudi), sama dengan mempersembahkan kurban kepada Allah.” (Bammidber Raba, c 21 & Jalkut 772).
Entah sampai kapan hal ini terus terjadi? Kita yang bisa menjawab pertanyaan itu. Ya, kita umat Islam. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG


Minggu, 05 Agustus 2012

Tokoh-Tokoh Yahudi Yang Merusak Pemikiran (2)


Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS al-Baqarah [2]: 87).

islampos.com—KEBENCIAN kaum Yahudi terhadap umat Islam selalu menjadi sebuah perbincangan serius di dalam Al Qur’an. Allah berkali-kali menjelaskan sifat kaum ini yang sungguh tidak rela ketika Islam tumbuh menjadi agama yang benar. Salah satu misi tersebut kini banyak diemban oleh para orientalis Yahudi. Salahsatunya adalah Abraham Geiger (1810-1874).

Bisa dikata Geiger adalah orang yang pertama kali mengatakan Al Qur’an dipengaruhi agama Yahudi. Anda tahu apa judul essainya hingga kemudian memenangkan kompetisi masuk Universitas Bonn tahun 1832? Sangat provokatif, yakni “Apa Yang Diambil Muhammad Dari Yahudi”. Essai ini langsung diseleksi Professor Georg B. F. Freytag dari Fakultas Oriental Studies, Universitas Bonn. Hasilnya, Geiger menang dan mendapat hadiah dari hasil tulisannya. Padahal, saat itu usianya baru 22 tahun

Setahun kemudian essai tersebut lantas diterbitkan  dengan judul “Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?”. Seperti dikuti dari buku Adnin Armas, Metodeologi Bibel dalam Studi Qur’an, (dalam tulisannya) Geiger menuding kosa kata Ibrani memiliki pengaruh signifikan. Geiger mengutip sebagian kata dalam Al Qur’an yang identik dengan Ibrani seperti Tabut, Taurat, Jannatu ‘And, Jahannam, Ahbar, darasa, Rabani, Sabt, Thaghut, Furqan, Ma’un, Mathani, Malakut. Geiger juga berpendapat Qur’an  terpengaruh ketika mengemukakan, (a) hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin (b) peraturan-peraturan hukum dan moral dan (c) pandangan tentang kehidupan. Selain itu, Geiger berpendapat cerita-cerita yang ada di dalam Al Qur’an pun tidak lepas dari agama Yahudi.

Senada dengan Geiger, seorang Yahudi lainnya bernama Joseph Horovitz juga menulis dua buah tulisan untuk menyatakan peran Bahasa Yahudi dibalik redaksi Qur’an, yakni sebuah buku berjudul Das koranische Untersuchungen (1923) dan sebuah artikel bertuliskan Jewish Proper Names and Derivatives in the Koran (1925).

Pandangan Geiger ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historis-kritis ala Geiger ini adalah buku yang diedit oleh Tilman Nagel, yaitu Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld (2010).

Pesan yang ingin Geiger sampaikan adalah bahwa Qur’an bukanlah sebuah kitab yang suci dan menuding bahwa pada dasarnya Nabi Muhammad bukanlah seorang yang ummi. Pandangan ini banyak ditekankan oleh Geiger.

Hartwig Hirschfeld (1854-1934), seorang Yahudi Jerrnan kelahiran Prussia, juga memfokuskan betapa pentingnya melacak kosa kata asing (Fremdworter) Al-Qur’an. Hirschfeld, yang mendapat gelar doktor ketika berusia 24 tahun, menulis disertasi doktoralnya dengan judul Judische Elemente im Koran. Ein Beitrag zur Koranforschung, Berlin 1878 (Elemen-elemen Yahudi dalam Al-Qur’an. Sebuah Sumbangan untuk Penelitian Al-Qur’an). Delapan tahun kemudian, Hirshfeld menulis Beitrage zur Erklarung des Koran, Leipzig 1886 (Sumbangan untuk Tafsir Al-Qur’an). Ia juga menulis New Researches into the Composition and Exegesis of the Qoran, London, 1901 (Penelitian-penelitian Baru dalam Penulisan dan Tafsir Al-Qur’an).

Menurut Hirshfeld, Muhammad bisa membaca dan menulis. Dalam pandangan Hirshfeld, Muhammad mengetahui aksara Ibrani tatkala berkunjung ke Syiria. Selain itu, fakta menunjukkan Muhammad bisa menulis ketika di Medinah. Sulit dipercaya, tegas Hirshfeld, jika Muhammad tidak bisa menulis ketika ia berusia di atas 50 tahun. Selain itu, Hirshfeld berpendapat banyaknya nama-nama dan kata-kata yang di­ungkapkan di dalam Al-Qur’an menunjukkan Muhammad salah membaca catatan-catatannya yang dibuat dengan tangan yang tidak memiliki skill (The disfigurement of many Biblical narnes and words mentioned in the Qur’an is due to misreadings in his own notes rnade with unskillful hand).

Pernyataan Geiger, Horovitz dan Hirschfeld sudah jauh-jauh hari dipatahkan Al Qur’an itu sendiri. Allah SWT dalam surat Al Fushilat ayat 44 berfirman,  “Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”.  Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab karena ia  adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia di atas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.”

Abu Ubayd menjelaskan sekalipun asal muasal kosakata Qur’an bersinggungan dengan bahasa Asing, tidak serta merta bahwa Al Qur’an berasal dari bahasa lain, karena kosakata asing tersebut sudah terarabkan dan memiliki makna tersendiri. Allah, dalam konsep pra-Islam, berbeda dengan Allah dalam konteks agama Islam. “Ini disebabkan Islam membawa makna baru. Islam telah meluruskan, mengIslamkan ajaran yang salah dari jahiliyah, agama Yahudi dan Kristen,” tegas Prof Mohd Nor Wan Daud dalam bukunya The Educational Philosophy.

Hal senada juga dikatakan oleh Syed Naquib Al Attas. Dalam bukunya, The Concept Education in Islam, pendekar Ilmu dari Melayu ini mengatakan bahwa Islamisasi yang dilakukan Rasulullah SAW dengan tanda turunnya wahyu menjadikan bahasa sebagai media yang sangat penting. Bahwa hal pertama yang dilakukan al-Qur’an adalah merombak struktur semantik konsep-konsep kunci dalam bahasa Arab Pra Islam dan memberinya makna baru seperti kata Allah, Haji, maupun nikah. Itulah yang membedakan Al Qur’an dan kitab suci lainnya.

Karenanya, seperti dikatakan Sayyid Quthb  dalam bukunya Indahnya Al Qur’an Berkisah,
menjelaskan mengapa sebagai sebuah kitab suci, al-Qur’an dapat melumpuhkan bangsa Arab. Pakar sastra ini berkesimpulan rupanya al-Qur’an tidak saja kaya dengan susunan redaksinya, tapi juga mengikat beberapa ayat dengan unsur tasyri (penetapan hukum) yang dirasa adil, detail, dan amat tepat digunakan dalam setiap zaman. Yang ini tidak akan mungkin mencoba diselarsakan dalam konteks bahasa Ibrani dengan menjadikan agama Yahudi sebagai induknya. Karenanya, tuduhan dari Geiger, Horovitz dan Hirshfeld bahwa Al Qur’an menjiplak kata-kata dalam Yahudi menjadi gugur dengan sendirinya. (Pizaro/Bersambung)

Sumber: islampos.com

Jumat, 03 Agustus 2012

Tokoh-tokoh Yahudi Yang Merusak Pemikiran (1)


islampos.com—SUATU ketika dalam diskusi di kantor Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), DR. Adian Husaini salah seorang cendekiawan muslim Indonesia menceritakan lawatannya selama 22 hari di Inggris. Ia menjelaskan bagaimana geliat perkembangan liberalisme dan keilmuan di Negeri Lady Diana tersebut. Namun yang menarik adalah ketika beliau sampai pada pengalaman bercengkarama dengan warga Yahudi dan Sinagog-sinagog yang ada disana.

DR. Adian menceritakan bagaimana orang Yahudi begitu serius mengkaji pemikiran. Mereka rela menetap puluhan jam di perpustakaan hanya untuk belajar ilmu pengetahuan. Mereka makan di perpus, minum di perpus, dan mandi pun juga disana. Begitu kenang DR. Adian.

Jika kita meneliti lebih jauh, sebenarnya kecintaan Yahudi terhadap ilmu menjadi wajar untuk mereka lakukan. Fakta bahwa Yahudi adalah bangsa minoritas -dan memiliki sejarah tertindas- membuat mereka tidak berbuat banyak selain mempertahankan diri mereka. Mulai dari memperbanyak keturunan, bergerak dalam bidang ekonomi, sampai pada satu tahapan melemahkan pemikiran kelompok-kelompok di sekitar mereka. Namun cara itu tidak akan dapat dilakukan tanpa proses internalisasi ajaran Yahudi betul-betul menyatu terhadap generasi mereka.

Proses internalisasi itu setidaknya dimulai dari bagaimana mereka mempelajari kitab-kitab Yahudi seperti taurat, talmud, mishnah, siddur, dan lain sebagainya. Tiap hari-khususnya hari sabtu- mereka disibukkan dengan mendaras teks-teks Yahudi. Pendidikan ini biasanya dipimpin oleh seorang rabbi yang sudah menguasai teologi Yahudi secara baik.

Satu hal penting untuk dikuasai Yahudi adalah bahasa. Rahel Halabe, seorang praktisi pendidikan Bahasa Ibrani yang terkenal di kalangan Yahudi pernah menulis sebuah buku pengantar bahasa Ibrani berjudul “The Introduction to Biblical Hebrew the Practical Way“. Menariknya, mayor pendidikan Halabe justru Sastra dan Bahasa Arab di Hebrew University, Israel.

Dalam tulisannya, Halabe menjelaskan betapa pentingnya penguasaan bahasa Ibrani bagi seorang anak Yahudi. Halabe beralasan, bahasa Ibrani bagi seorang anak Yahudi, tidak saja semata-mata menjadi tuntutan teologis tapi bahasa Ibrani adalah representasi kultur atau budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas seorang Yahudi. Halabe kemudian mendelegasikan tulisan Ibrani modern dalam metode pendidikannya. Hal ini tidak saja untuk memudahkan jalan mereka menguasai percakapan bahasa Ibrani dan literatur modern Ibrani, tetapi juga untuk mendukung studi mereka tentang teks-teks teologi klasik Yahudi seperti Siddur dan Mishnah.

“Introducing young students to modern Hebrew literature will not only ease their way into Hebrew conversation and modern Hebrew literature, but will support their study of the classical texts: Bible, Siddur, Mishnah and more. In fact, studying classical Hebrew will, in its turn, support the learning of modern Hebrew, which draws so much from its layered linguistic traditions,” jelasnya.

Akhirnya ketika semua proses itu telah usai, pada gilirannya, Yahudi pun akan memetik hasilnya. Hasil itu adalah berupa generasi dewasa Yahudi yang terpelajar sekaligus menghargai warisan dan budaya mereka. Ya, bukan budaya yang lainnya.

“In fact, studying classical Hebrew will, in its turn, support the learning of modern Hebrew, which draws so much from its layered linguistic traditions. A rich program offering both past and present will help produce educated adult Jews who are well-read and appreciative of their heritage and culture.”

Dan ketika orang-orang Yahudi betul-betul menguasai konsep ajaran agamanya, barulah mereka akan lebih serius “menjajah” ajaran agama lain. Hal ini betul-betul terjadi tak lama setelah Yahudi berhasil melakukan invasi ke Palestina yang kemudian memunculkan Israel sebagai negara mereka.

Salah satu contoh kasus untuk mewakili kajian ini adalah dengan berdirinya Arabic and Islamic Studies di Hebrew University of Jerusalem atau bisa disingkat sebagai jurusan Studi Islam adan Arab. Dalam bukunya Belajar Islam Dari Yahudi, Herry Nurdi mengatakan bahwa Kajian Islam di Hebrew University sendiri digagas bersamaan dengan keberhasilan zionisme merampas tanah Palestina. Mereka menilai cara menguasai Palestina sebagai representasi islam dengan mengenali agama orang Palestina itu sendiri, yakni Islam.

Bisa dikata, Kajian tentang Islam dan Arab sendiri adalah salah satu kajian tertua di Hebrew University of Jerusalem yang mulanya bernama the School of oriental studies. Namun meski didirikan hanya oleh lima orang Yahudi, jurusan ini kemudian berkembang menjadi jurusan favorit di kampus tersebut. Dan kini tercatat sudah memiliki 32 Profesor dalam bidang Sastra Arab beserta Sejarah Peradaban Islam.

Dan dari Universitas tua di Israel inilah lahir para cendekiawan-cendekiawan Yahudi yang mempromosikan ajaran liberalisme dan bertindak sebagai orientalisme yang sejalan dengan misi kolonialisme, yakni menjajah Islam. [Pizaro]

BERSAMBUNG

Sumber: islampos.com