Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (7-Habis)
SENIN,
23 Januari 2006 ada pemandangan tidak biasa di Malaysia. Dewan Fatwa
Nasional negara Malaysia, mengeluarkan fatwa berisi pelarangan bagi umat
Islam di negara jiran itu untuk ikut ambil bagian dalam jenis musik heavy metal terutama yang beraliran black metal.
Pelarangan ini pasti bukan tanpa sebab. Para ulama Malaysia memang
terkenal tegas pada akidah. Benar saja, Dewan Fatwa menganggap Black Metal
telah memasukkan unsur-unsur ‘pemujaan setan’ dan sumpah serapah
terhadap Tuhan. Selain itu, grup musik yang beraliran metal ini
cenderung melakukan pelanggaran yang diatur norma agama seperti minum
minuman beralkohol dan seks bebas.
Black metal sendiri muncul pada awal tahun 1980an,
mendahului munculnya aliran-aliran musik metal ekstrim yang makin
beragam dan ikut melibatkan unsur permainan ‘Ilmu Hitam’. Akar musik black metal
ini diciptakan oleh seorang gitaris asal Norwegia Øystein Aarseth
(1968–1993). Ia menyebarkan kampanye anti Kristen, menghina Tuhan dan
mengagungkan setan lewat lagu-lagunya. Musik ini kemudian mulai mendapat
perhatian di Malaysia pada 2001 setelah sejumlah media massa mengekspos
berita seorang anak muda penggemar musik black mulai melakukan ritual
minum darah.
Darah sendiri memang memiliki tempat tersendiri dalam jamuan
paganisme maupun berbagai aliran musik yang menyertakan peran Yahudi
dibaliknya. Januari 2012, misalnya, Dailymail sempat melansir
pengakuan salah satu pekerja Hotel Intercontinental, London yang melihat
Ratu Illuminati yang juga pennayi kontroversial Lady Gaga meninggalkan
cairan mirip darah dalam jumlah besar di bak mandi hotel. Sumber lainnya
juga mengungkapkan bahwa semua staf hotel sangat yakin Gaga telah mandi
di sana, atau setidaknya menggunakan cairan itu untuk mendandani
kostumnya yang selalu super aneh di atas panggung.
Tidak hanya itu, jika anda pernah melihat rekaman konser Lady Gaga di
New York (durasi dua jam) kita dapat menyimpulkan betapa pintarnya Gaga
menyelipkan berbagai macam penerjemahan Teologi Yahudi baik dalam
simbol, lirik, maupun tarian. Setelah konser berlangsung selama 1 jam,
Gaga pun tampil dengan kostum minimalis dengan simbahan darah merah di
tubuhnya.
Pertanyaannya adalah kenapa darah menjadi sedemikian penting dalam Yahudi? Arnold Lesse pengarang Jewish Ritual Murder
memiliki jawabannya. Menurutnya, meskipun kebencian terhadap Goyyim
menjadi motif utama Yahudi melaksanakan ritual darahnya, namun tradisi
yang mengasosiasikan darah sebagai ide penebusan dosa juga tidak bisa
dipinggirkan. Lesse menjelaskan bahwa berkembang pemikiran di beberapa
orang Yahudi bahwa mereka tidak dapat diselamatkan atau kembali ke Bukit
Sion kecuali setiap tahun darah seorang Kristen harus ditumpaghan demi
konsumsi ritual.
Prof. Dr Ahmad Syarkawi, dalam bukunya Talmud: Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan menjelaskan
fakta Arnold Lesse sebelumnya bahwa ide penebussan dosa (atonement)
menjadi pemicu dibalik serangkaian aksi penghabisan nyawa non Yahudi.
Dalam bab yang berjudul Tidak Boleh Hari Raya Berlalu Begitu Saja Tanpa Memukul Leher Seorang Nasrani dijelaskan bahwa Rabbi Eliezar berkata. “Boleh
memotong kepala orang bodoh (seorang penduduk dunia fana] pada hari
raya Atonement jika hari itu bertepatan dengan hari Sabtu. Lalu
muridmuridnya berkata, “Wahai Rabbi, apakah itu sama dengan kurban?” la
menjawab, “Benar sekali, karena suatu keharusan untuk melakukan
sembahyang pada saat melakukan acara ritual kurban, dan tidak perlu lagi
shalat ketika sudah dipukul leher seorang tertentu.”
Pada dasarnya asosiasi penebusan dosa dengan darah ini juga menyebar di ajran Mormon. Michael Newton dalam Journal of Psychohistory 24 (2) Fall 1996,
menjelaskan bahwa Hal yang paling dekat ke upacara pengorbanan manusia
di antara para pemukim kulit putih dari Amerika Utara, setidaknya sampai
abad ini, ditemukan dalam doktrin “penebusan darah” pemeluk Mormon,
yang berasal dari tahun 1850-an. Joseph Smith salah satu perintis ajaran
Mormon mengatakan ada dosa dari pria yang mereka tidak dapat menerima
pengampunan di dunia ini atau di dunia yang akan datang, “dan jika
mereka memiliki mata, mereka akan terbuka untuk melihat kondisi mereka
yang sebenarnya, mereka akan sangat bersedia untuk menumpahkan darah
yang asapnya mungkin naik ke surga sebagai penghapusan dosa mereka,”
katanya.
Hingga kini, ritual pembunuhan Yahudi masih menjadi misteri. Beberapa
kelompok Yahudi menolak klaim ini. Stephen Prothero, profesor bidang
agama dari Boston University, memicu titik balik dalam sejarah Yahudi
pada tahun 1840, setelah orang-orang Yahudi di Damaskus dituduh
melakukan ritual membunuh seorang biarawan Katolik. “Untuk pertama
kalinya, pemimpin Yahudi dari seluruh Eropa dan Amerika Serikat
terorganisir dalam kegiatan anti-Yahudi,” kata Prothero, mengutip buku Jewish Literacy karya Joseph Telushkin.
Mary
C Boys, profesor pada Union Theological Seminary yang telah mempelajari
sejarah terkait ritual darah ini juga menolak klaim ini. Ia menyatakan
‘mitos’ ini berkaitan dengan sikap menyalahkan orang Yahudi atas
kematian Yesus dan pencemaran orang Yahudi. “Banyak hal seperti ini
adalah karena ketidaktahuan, tetapi anggapan ini terus hidup hingga saat
ini,” katanya. Fitnah darah juga dikaitkan dengan tuduhan bahwa orang
Yahudi menggunakan darah orang non-Yahudi untuk membuat matzoh,
atau roti tidak beragi, dan anggur. Ia mengatakan bahwa mitos fitnah
darah mulai berhembus dari abad pertengahan Eropa,” lanjutnya.
Namun ditengah sanggahan yang dikeluarkan kelompok Yahudi, sebagian
rabbi lainnya turut mengamini ritual pembunuhan Yahudi. Mereka
menyatakan persembahan orang Non Yahudi diakui secara sah di dalam
Talmud. Karenanya tidak heran Rabi Yahudi Yitzhak Shapiro termasuk rabbi
yang meyetujui menyatakan pembunuhan terhadap anak-anak Palestina,
bahkan bayi sekalipun. “Tidak ada sesuatu yang salah terhadap pembunuhan
itu,” tegasnya dalam bukunya The King’s of Torah.
Talmud sebagai kitab utama para rabbi Yahudi saat ini menguraikan
sejumlah ayat-ayat ritual sebagai landasan teologis pembunuhan para
goyyim. Kitab Israel (177.b), misalnya, menganjurkan bahwa
pembunuh orang non Yahudi akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan,
“Burulah kehidupan Kliphoth, lalu bunuhlah ia, maka Allah akan ridha
padamu, sebagaimana orang yang mempersembahkan kemenyan harum padanya.”
Sedangkan Kitab Yalkut Simoni berkata bahwa semua orang yang
menumpahkan darah orang yang tidak bertakwa (non-Yahudi), amalnya makbul
di sisi Allah sebagaimana orang yang mempersembahkan kurban kepada
Allah.
Zohar (II/43.a) sebagai kitab rujukan Yahudi juga turut memberikan payung dengan mendompleng nama Nabi Musa. Dalam Zohar (II/43.a)
Musa memerintahkan untuk mengganti satu ekor keledai yang lahir pertama
kali sebagai ganti dari kurban penyembelihan bayi manusia: Yang
dimaksud dengan keledai di sini adalah semua orang yang bukan Yahudi
yang berkurban dengan menyembelih bayi,sedang ia adalah dongeng Israel
yang kacau. Akan tetapi, bila non-Yahudi menolak untuk berkurban pada
waktu itu, maka tulang belakangnya dipecahkan. Mereka harus dihapuskan
dan daftar orang hidup. karena sudah dikatakan tentang mereka.
“Barangsiapa yang berdosa dengan melawan aku. maka aku akan
menghapuskannya dari daftar orang hidup.”
Dan orang-orang Yahudi yang telah membunuh golongan diluarkan akan menempati surga tertinggi. Dalam Zohar (I/38.b
dan 39.a) disebutkan: Pada istana-istana surga yang empat akan hidup
mereka yang bersedih hati di atas Sion dan Yerussalem, dan semua orang
yang memusnahkan bangsa-bangsa penyambah berhala …dan mereka yang
membunuh bangsa penyembah berhala akan memakai pakaian-pakaian
kekaisaran agar mereka menjadi istimewa dan bangga.
Masih banyak berbagai data dan fakta mengenai ritual ini. Dan umat
Islam, masyarakat luas, dan siapapun itu yang peduli atas nyawa manusia
tak berdosa, harus terus waspada mengingat hingga kini ritual pembunuhan
Yahudi masih terus berlangsung. Allahua’lam [Muhammad Pizaro Novelan
Tauhidi/islampos]
HABIS
Jumat, 24 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (6)
islampos.com–SENIN 1 Mei 1989 mungkin menjadi hari yang tidak menyenangkan bagi presenter ternama, Oprah Winfrey. Tampil membawakan tema talk show kontroversial bertajuk Mexican Satanic Cult Murders, Oprah ditantang untuk menguak jaringan dan praktek ritual berdarah Yahudi di Chicago. Untuk itu, seorang pemudi Yahudi Chicago aseli Meksiko (29 tahun) dihadirkan demi memuaskan rasa penasaran pemirsa. Namun ia tidak berani mengungkapkan identitas aselinya. Ia memilih aman dengan menggunakan nama samaran, Rachel.
Apa yang terjadi? Sungguh diluar dugaan. Rachel mengungkapkan secara telanjang mengenai doktrin berdarah dalam tradisi olkutisme dalam agamanya. Ia sendiri mengaku sebagai salah satu pelaku yang turut berpartisipasi dalam ritual mengorbankan bayi. Yang menarik adalah, sang gadis muda itu tidak bepartisipasi dalam sekte okult manapun, tapi dia melakukannya karena memang dia seorang Yahudi.
“Orang tentunya mengira anda adalah seorang Yahudi yang baik, namun ternyata kalian semua memuja setan di dalam rumah kalian?” selidik Oprah tidak percaya. Dan Rachel kemudian menegaskan, “Benar. Ada banyak keluarga Yahudi lainnya di seluruh Amerika Serikat yang melakukan hal itu, bukan hanya keluarga saya.”
Artinya, Rachel merasa bahwa praktik keji ini tidak hanya menjadi monopoli keluarganya, tapi juga jamak dilakukan oleh keluarga Yahudi manapun di dunia. Bahkan Rachel turut menuding ritual pembunuhan terhadap bayi ini terkait erat dengan kasus pembunuhan yang melenyapkan nyawa tiga belas orang di Matomoros, Meksiko
Mendengar penjelasan Rachel, sontak presenter berkulit hitam itu terkejut. Ia mengaku hari itu adalah kali pertama ia mendengar tentang orang Yahudi mengorbankan anak-anak. Rachel sendiri merasa terpaksa melakukan hal itu. Tidak ada sedikitpun niatnya untuk menghabisi nyawa makhluk tak berdosa seperti bayi. “Ketika saya masih sangat muda, saya dipaksa untuk berpartisipasi dalam ritual itu, dan yang saya harus mau mengorbankan bayi,” kenangnya.
Akibat kuatnya intensitas ritual pembunuhan bayi tersebut, Rachel mengalami kemerosotan jiwa yang mendalam. Adegan pembunuhan mengerikan yang tiap saat dilakukanya turut berdampak terhadap kondisi psikologisnya. Dokter memvonisnya mengidap kepribadian ganda. Kini, Rachel pun diharuskan mengikuti proses terapi psikiatri guna memulihkan kondisi mentalnya.
Kasus tidak berhenti di situ. Pasalnya, Rachel kemudian membocorkan sebuah rahasia bahwa sejumlah aparat keamanan turut bertanggungjawab terhadap masalah ini. Menurutnya, pihak kepolisian sudah mengetahui ritual-ritual kriminal yang dilakukan oleh kelompok Yahudi, namun tekanan dari otoritas keamanan Amerika yang telah dikuasai Yahudi membuat tradisi okult ini berjalan tanpa pernah ada tindakan pencegahan.
Tak selang berapa lama, kasus ini pun menjadi pemberitaan hangat di Amerika. Kelompok Yahudi mengecam Oprah Winfrey yang dituding melakukan propaganda antisemit. Sikap ‘riang’ Oprah saat wawancara Rachel membuat kelompok Yahudi berang bukan kepalang. Stasiun televisi di seluruh negeri seperti New York, Los Angeles, Houston, Cleveland, Washington DC pun ikut menjadi pelampiasan atas kemarahan kaum Yahudi. Mereka kemudian menuntut Oprah meminta maaf karena telah menayangkan acara yang dapat membuat Yahudi berada dalam ancaman. Oprah tidak bisa berbuat banyak. Jaringan media yang hampir seluruhnya dikuasai Yahudi membuat wanita kelahiran 1954 itu mengutararakan penyesalannya.
Namun apa yang dilakukan Oprah berbanding terbalik dengan Rachel. Ia akhirnya membuka identitas aselinya dan semua orang tahu bahwa Rachel adalah nama samaran dari Vicky Polin. Setelah selesai menjalani terapi psikologis, ia tampil kedepan dengan mendirikan pusat rehabilitasi dan advokasi bagi orang-orang yang memiliki nasib sama dengannya. Polin menamakannya: The Awarennes Centre. Baginya, kegilaan ajaran okultisme Yahudi harus diungkap.
Melalui situs Web-nya, www.theawarenesscenter.org, Polin menerima keluhan dari Yahudi di seluruh dunia. Dia mengatakan situs ini dikunjungi oleh sekitar 15.000 orang setiap bulan dan terlibat dalam proyek-proyek konseling sekira 60-80 jam pe rminggu. Namun meski mendapatkan banyak dukungan, sebagian Rabi dan tokoh Yahudi turut mengecamnya. Mereka menilai Polin berusaha membalaskan dendamnya kepada Yahudi. “Di beberapa tempat, kami dipandang sebagai pahlawan dan dalam beberapa kita dipandang sebagai gila atau ingin membalas dendam,” tandasnya seperti dikutip dari The Jewish Week, Maret 2004.
Tantangan Polin untuk menyadarkan aktor-aktor pembunuh maupun para korban yang selamat, bisa dikata terbilang berat. Kasus demi kasus terus terjadi sampai saat ini. Ada yang terungkap, ada pula yang berhenti di tengah jalan. Kegigihan keluarga korban menjadi salah satu kunci dalam membuka praktik-praktik sadis seperti ini.
Di daerah asalnya sendiri, Meksiko, kasus pembunuh yang berlandaskan tradisi olkutisme masih sering terjadi. Pada akhir Maret 2012, misalnya, Meksiko kembali dikejutkan dengan penangkapan tujuh anggota kultus setan yang diduga mengorbankan anak laki-laki berumur 10 tahun dan seorang wanita 44 tahun. Pemimpin kelompok itu adalah Silvia Meraz. Ia meyakini bahwa mempersembahkan korban manusia untuk Kultus Kematian Kudus (La Santa Mmuerte) akan membawa berkah berupa keuntungan ekonomi dan kesehatan bagi mereka. Kasus ini sendiri terungkap setelah Jaksa membuka investigasi atas aduan dari pihak keluarga dimana kolega mereka yang bernama Yesus Octavio Martinez dilaporkan hilang selama 10 tahun.
“Ritual itu diadakan pada malam hari, mereka menyalakan lilin. Kemudian mereka mengiris nadi korban, sementara mereka masih hidup. Kemudian mereka menunggu korban kehabisan darah sampai mati, dan mengumpulkan darah di sebuah tempat. Ada pula yang dipotong lehernya. Preferensi wanita itu untuk memotong leher korban, dengan alasan bahwa Kematian Kudus lebih suka seperti itu dan akan memberitahu mereka di mana ada uang untuk mencuri, yang akan menjadi bagian dari hadiah atas persembahan mereka,” sambung Larrinaga seperti dilansir unmid.com
Kultus Kematian Kudus, populer di kalangan pedagang obat bius dan beberapa penjahat Meksiko lainnya, adalah campuran dari agama Kristen, tradisi India dan kepercayaan Paganisme yang muncul pada 1940-an di lingkungan Kota miskin Meksiko dan kemudian menyebar di seluruh negeri. Sekte ini telah dikutuk oleh Vatikan dan tidak diakui sebagai aliran Kristiani oleh pemerintah Meksiko. Mereka mengklaim memiliki lima juta anggota di seluruh dunia, memiliki gereja utamanya di Mexico City. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG
Selasa, 21 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (4)
islampos.com–MEMANG tidak berlebihan ketika seorang Sarjana Yahudi bernama Dibre David begitu memendam kekhwatiran melihat ajaran agamanya. Menurutnya, Yahudi berada dalam posisi terancam. Bagaimana tidak, Yahudi adalah satu-satunya agama yang paling rasis diskriminatif ketika berbicara agama lain. Superioritas diatas ras menjadi pijakan yang membuat Yahudi berkembang menjadi agama “tanpa otak” ketika berbicara manusia. Bahwa telah menjadi rahasia umum teks-teks dalam Talmud begitu pongahnya kala menyentuh pembahasan goyyim (orang di luar Yahudi). “Jika mereka tahu ajaran kami, maka mereka akan membunuhi kami,” tandas Dibre.
Kekhwatiran Dibre David bisa jadi sangat beralasan, sebab Willie Martin dalam The History of Jewish Human Sacrifice mensinyalir ayat-ayat Talmud telah menjadi pemicu dibalik serangkaian ritual pembunuhan yang dilakukan oleh Yahudi. Bahkan Prof. Dr. Muhammad Abdullah Asy Syarqawi, Guru Besar Perbandingan Agama dalam bukunya Talmud: Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan menyimpulkan bahwa Talmud nyatanya tidak saja menjelaskan konsep utama mengenai spiritualitas Yahudi, tapi juga memprovokasi lahirnya kebencian tanpa dasar kepada orang-orang di luar Yahudi. “Apa boleh buat, kini buku karya para rabbi Yahudi ini sudah menjadi sebuah ‘Kitab Suci’ yang menjadi dasar agama dan pedoman hidup (way of life) bagi mereka. Dari buku ini mereka menyandarkan kesucian sikap dan hukum-hukum pergaulan mereka dengan pihak luar dan dalam Yahudi. Talmud sudah mempersembahkan kepada mereka sebuah surga jiwa yang abadi, yang menjadi rujukan secara serampangan sambil lari dari dunia luar (non Yahudi),” tegas Asy Syarqawi dalam pengantar bukunya.
Menurut Willi Martin, dengan mendasarkan diri bahwa hanya orang Yahudi yang pantas disebut manusia sedangkan kelompok lain adalah binatang, maka tak heran dalam Talmud beredar luas berbagai ayat yang menunjukkan begitu murahnya nyawa seorang non Yahudi. Diantaranya seperti beberapa ayat yang dikutip berikut ini:
“Diizinkan untuk mengambil tubuh dan kehidupan non-Yahudi.” (Sefer Ikkarim IIIC, 25)
“Setiap orang Yahudi, yang menumpahkan darah orang durhaka (non-Yahudi), sama dengan mempersembahkan kurban kepada Allah.” (Bammidber Raba, c 21 & Jalkut 772).
Keleluasaan Yahudi untuk membunuh orang-orang diluar kelompoknya semakin dimotivasi dengan kutipan beberapa ayat Talmud lainnya. Salah satunya adalah penyebutan derajat manusia non Yahudi yang sama hinanya dengan seekor hewan. Karenanya dengan hal ini Talmud hanya ingin berpesan: Yahudi tidak perlu risih apalagi menunjukkan penyelasan mereka sebagai manusia tanpa belas kasih!
“Orang-orang Yahudi disebut manusia, tetapi non-Yahudi bukanlah manusia. Mereka adalah binatang.” (Talmud: Baba Mezia 114b)
“Para Akum (Negro) adalah seperti anjing Ya, Alkitab mengajarkan untuk menghormati anjing lebih daripada Akum itu.” (Ereget Raschi EROD. 22
30)
“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)
“Meskipun Allah menciptakan non-Yahudi, mereka masih seekor binatang dalam wujud manusia. Hal ini tidak menjadikan seorang Yahudi sedang dilayani oleh
hewan. Oleh karena itu ia akan dilayani oleh binatang dalam bentuk manusia “(Midrasch Talpioth, hal 255,. Warsawa 1855).
“Orang non-Yahudi yang hamil, tidak lebih baik dari hewan yang hamil.” (Coschen Hamischpat 405)
“Jiwa-jiwa non-Yahudi datang dari roh-roh najis dan disebut babi.” (Jalkut Rubeni gadol 12b)
“Meskipun orang-orang non Yahudi memiliki struktur tubuh yang sama seperti seorang Yahudi, namun jika dibandingkan dengan Yahudi, maka mereka bagaikan monyet dengan manusia.” (Schene Luchoth Haberith, hal. 250b)
Dan fakta mengerikan dari “ayat-ayat setan” ini tidak hanya menggantung dalam teori-teori teologi Yahudi, tapi juga menjelma dalam praktik pembunuhan massal yang dieksekusi oleh orang Yahudi. Tahun 1917 adalah tahun sejarah kelam bagi umat Kristiani. Tak kurang dari 35 juta jiwa nyawa mereka melayang ditangan kepemipinan Orang-orang Yahudi pernah memberontak di Rusia pada tahun 1917 dan mendirikan Bolshevisme dibawah kepemimpinan Marxist Rusia seperti Leon Trotsky, Sinojeff dan tokoh-tokoh Yahudi lainnya. Para korban ditembak, disiksa, dan dibiarkan mati kelaparan. Dan di Hungaria, di bawah pimpinan seorang Yahudi Bolshevik bernama Bela Kuhn (1886-1938), sebuah pembantaian mengerikan telah disiapkan di mana puluhan ribu orang Kristen dibunuh.
Oleh karena itu, tepatlah hingga kini Yahudi merasa “berhak”memberondong anak-anak Palestina tanpa pernah merasa berdosa, merampas wilayah Palestina tanpa pernah sungkan bertanya siapakah pemilik sesungguhnya, membiarkan para tatawanan Palestina menderita sakit hingga kematian menghadapinya, “Karena Talmud,” tandas Prof. Asy Syarqawi ketika memberikan pengantarnya bukunya, “adalah inspirator utama bagi pergerakan zionisme di seluruh dunia.” [muhammadpizaronovelantauhidi/islampos]
BERSAMBUNG
Minggu, 19 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (3)
“Tidak ada yang lebih baik dari merayakan Paskah dengan memakan Matzah.”
islampos.com–KATA-kata di atas mendadak heboh ketika Ido Kozikaro,
seorang pemain Basket Tim Nasional Israel mempostingnya di Facebook pada
April 2012 lalu. Kalimat tersebut tentu bukan sembarang kalimat, karena
jika anda seorang peneliti Yahudi khususnya teologi, maka anda akan
menemukan bahwa Matzah adalah sebutan bagi roti tradisional yang dimakan
orang Yahudi
selama perayaan liburan Paskah dengan bahan baku darah anak laki-laki
Muslim dan Kristen. Jadi Matzah bukan sekedar makanan biasa, dia murni
ritus Kabbalah yang sama sekali tidak pernah dibawa oleh ajaran Tauhid
Nabi Musa as.
Lantas apa yang terjadi pasca Kozikaro memposting status
kontroversial tersebut? Ia mendapatkan caci maki? Sumpah serapah
disana-sini? Tentu tidak, karena orang-orang Yahudi paham betul maksud
Kozikaro. Yang terjadi adalah Komentar status pria kelahiran 8 Januari
1978 sontak banjir dukungan. “Kami berharap untuk berbagi ini denganmu,”
tegas salah seorang kerabatnya.
Ritual mengkonsumsi darah anak itu sendiri bukanlah barang baru bagi
kelompok Yahudi. Ritual ini telah menjadi dogma yang membumi dalam
kepercayaan Kabbalah ribuan tahun lamanya. Meminum darah adalah simbol
keperkasaan, kekuatan, hingga kebanggaan bagi seorang Yahudi. Tidak
jarang ritus meminum najis ini mendapatkan legitimasi imani yang
berangkat dari doktrin bible. Thomas of Cantimpré (1201-1271), seorang
Teolog Katolik Roma yang juga Profesor Filsafat kenamaan Gereja pernah
menulis secara khusus terkait hal ini. Ia mengatakan adalah sangat
meyakinkan bahwa orang-orang Yahudi di tiap tahunnya mengumpukan
darah-darah orang Kristen untuk para jema’at Yahudi. Karenanya tidak
heran dalam injil Mathius termaktub sebuah ayat persembahan darah
seorang anak Kristen. “Darahnya adalah tanggungan kami, dan anak-anak kami” (Matius 27:25).
Injil Matius sendiri menempati urutan pertama dalam Perjanjian Baru
dan dianggap kitab paling berbau Yahudi. Injil ini murni dibentuk oleh wolrdview Yahudi
baik dalam teks maupun spirit dibaliknya. “Walaupun ditutup dengan
pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri
Yahudi,” beber A. Tricot, seorang pakar Bible.
Hingga
kini kita ketahui bersama banyak anak Palestina diculik dan dibunuh
oleh tentara Yahudi. Tengah malam buta, para tentara menjemput paksa
mereka untuk digiring menuju ke penjara. Ironisnya mereka pun tidak
pernah mendapatkan keadilan dalam proses persidangan. Tuduhan demi
tuduhan sengaja dibuat oleh para tentara dari mulai menganggu keamanan
Israel hingga melempar batu ke wajah tentara semata-mata sebagai alibi
untuk menahan anak-anak Palestina. Hal inilah yang terjadi pasca
Intifadah pertama tahun 1987-1993. Nasib ribuan anak Palestina tidak
pernah dapat diindentifikasi dan menghilang bak ditelan bumi. Tanpa
memiliki rasa belas kasih, Rabi Yahudi bernama Yitzhak Shapiro justru
menyatakan bahwa pembunuhan terhadap anak-anak Palestina, bahkan bayi
sekalipun adalah tindakan sah. “Tidak ada sesuatu yang salah terhadap
pembunuhan itu,” tegasnya dalam bukunya The King’s of Torah.
Menurut sejumlah kesaksian, sepanjang sejarah manusia, Yahudi biasa
menculik anak-anak atau para pemuda non-Yahudi atau yang mereka sebut Goyim dan
menjadikan mereka “tumbal” untuk ritual pembunuhan pelan-pelan yang
menyakitkan dengan luka yang biasanya 33 luka tidak mematikan,
membiarkan darah mereka menetes hingga korban itu meninggal dunia.
Bukti keterlibatan ritual sebagai otak dibalik pembunuhan anak-anak
dan remaja muslim kian diteguhkan oleh Dr Umayma Ahmad Al-Jalahma dari
Raja Faisal University. Ahad, 10 Maret 2002, Dr Al Jalahma sempat
membuat heboh ketika menulis artikel berjudul “The Jewish Holiday of
Purim” di harian Al Riyadh, sebuah harian terkemuka milik pemerintah
Saudi. Artikel yang menyoroti kebiadaban ritual Yahudi di Ar Riyadh
ini tentu menjadi sangat luar biasa. Terlebih hubungan Arab dan Amerika
sempat menegang pasca serangan 11/9 2001. Dalam dua bagian, Dr Al
Jalahma menyoroti secara khusus ritual dalam Pesta purim ketika para
pemuda muslim dan Kristen menjadi tumbal ajaran sesat Yahudi. Metodenya
pun sangat mengerikan. Ia menulis,
“Mari kita memeriksa bagaimana darah para korban ditumpahkan. Untuk
hal ini, sebuah jarum digunakan untuk mengucurkan darah ke dalam tong
yang seukuran tubuh manusia. (Jarum ini) menembus tubuh korban.. dan
darah korban mulai menetes dengan lambat. Dengan
demikian, korban menderita siksaan yang mengerikan – siksaan yang
memberi kenikmatan para vampir Yahudi karena mereka sangat hati-hati
memantau setiap detail dari darah yang tumpah dengan kesenangan dan
cinta yang sulit untuk dipahami.”
Ironisnya, setelah “pertunjukan” ini selesai dilaksanakan, para rabi
Yahudi betul-betul membuat ummat-Nya bahagia di masa liburan mereka. Ia
melayani jema’atnya secara syahdu dengan hidangan kue-kue di mana darah
dan manusia telah menyatu.
Dr.
Al Jalahma menyatakan metode pembunuhan yang digunakan untuk anak-anak
dan pemuda ini pun berbeda-beda. Setidaknya penghabisan nyawa lewat
jarum hanyalah satu metode diantara metode lainnya. Selain itu para rabi
Yahudi juga biasa membunuh korbannya dengan cara menyembelih leher
korban. Ia melanjutkan,
“Ada cara lain untuk menumpahkan darah yaitu darah korban dapat
disembelih layaknya domba disembelih, dan darahnya dikumpulkan dalam
sebuah wadah. Atau, pembuluh darah korban bisa dibelah
dibeberapa tempat membiarkan menguras darahnya dari tubuhnya, dan
mereka membiarkan darah para korban terkuras dari tubuhnya… Darah ini
sangat hati-hati dikumpulkan oleh para ‘rabbi, pendeta Yahudi,dan
seorang koki yang mengkhususkan diri untuk mempersiapkan berbagai jenis
kue.”
Ya sebuah data mengerikan mengenai kasus pembunuhan seorang anak demi
tumbal bernama ritual Yahudi. Kisah pilu nasib anak-anak muslim
Palestina hingga kini terus menjadi luka yang entah kapan bisa terobati.
Anak Palestina, Libanon, Suriah, atau bahkan anak kita mungkin hanya
menunggu waktu yang pada gilirannya akan menjadi korban berikutnya dalam
perayaan-perayaan Yahudi. “Karena ini bagian dari perintah agama kami!”
kilah Rabbi Yitzhak Shapiro, secara jujur dalam bukunya The King’s of Torah. [muhammadpizaronovelantauhidi/islampos]
Kamis, 16 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (2)
islampos.com–“JIKA bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) tahu apa yang kita ajarkan terhadap mereka, mereka akan membunuh kami,” (Dibre David, Sarjana Yahudi).
Sabtu, 29 Januari 2011 rakyat Kota Sevastopol, Ukraina dibuat geger. Dua tubuh gadis belia berusia 10 dan 11 tahun ditemukan tergeletak tanpa nyawa. Dua korban ini dikabarkan menghilang sejak 4 Januari 2011 dan belum juga diketemukan hingga berminggu-minggu kemudian. Koran-koran Ukraina sempat mengabarkan kepergian dua gadis belia ini. Para polisi pun sibuk lalu-lalang mencoba menemukan jasad korban. Anak-anak digeledah dan foto kedua korban secara teratur ditampilkan rutin pada layar kaca. Setiap hari, puluhan peserta forum Sevastopol berkumpul disiang hari pada pusat perbelanjaan Ocean. Dengan kelompok kecil, mereka menyisir tiap wilayah dan memasang foto korban di tiap dinding. Akan tetapi, semuanya sia-sia hingga seekor anjing mencium bau di tengah kota ketika dibawa pemiliknya keluar rumah.
Kejadian inipun kemudian berbuntut panjang. Pihak ahli mengatakan tubuh korban ditemukan dalam kondisi tidak wajar. Bahwa bekas luka pisau menunjukkan mereka mulanya dilukai secara perlahan, dan kemudian dibunuh dengan tusukan pisau dengan intensitas satu hingga dua kali. Kedua tubuh korban pun juga terbelah menjadi empat bagian. Suatu tindak pembunuhan yang aneh untuk ukuran orang dewasa sekalipun.
Belum reda keterkejutan masyarakat atas aksi keji ini, Vitaly Kharamov Pemimpin masyarakat Cossack Crieman mulai memberikan titik terang siapa dalang dibalik pembunuhan sadis ini. Dalam kesimpulannya, modus pembunuhan dengan cara mematikan korban perlahan-lahan lewat tusukan ke tubuh korban hanya dapat dijumpai dalam ritual Yahudi. “Luka pisau pertama merupakan luka kecil, yang khas dengan tipikal untuk Talmud atau ritual kabbalistik, metode ini digunakan untuk menghilangkan darah korban,” tandasnya seperti dilansir kantor berita Ukraina, New Region.
Rupanya ini bukanlah kejadian pertama yang menimpa negara di bagian Timur Eropa itu. Pada tanggal 3 Desember 2009, beberapa laman web dari Ukraina juga menampilkan fakta kasus penyelundupan 25.000 anak-anak warga Ukraina ke negara Israel. Tindakan tak berperikemanusiaan ini dipercayai bertujuan mengambil organ-organ anak-anak tersebut. Pengungkapan kasus ini dilakukan oleh beberapa orang ahli akademik Ukraina dalam satu persidangan yang berlangsung di Kiev, Ukraina. Isu ini juga timbul selepas berita dari tabloid Sweedia memunculkan isu pembunuhan warga sipil Palestina oleh tentera-tentera Israel guna mengambil organ tubuh mereka.
Ketika kita berbicara pembunuhan dalam doktrin Yahudi, maka kita tidak boleh melepaskan diri dari teologi Yahudi. Dari situlah ritual itu muncul bahkan dianjurkan. Willie Martin, seorang pengamat Sejarah Yahudi, menuding bahwa hukum-hukum rahasia Yahudi yang didasarkan pada prinsip dasar yang menyatakan: Hanya orang Yahudi adalah manusia menjadi dalang serangkaian aksi ritual kematian Yahudi. Bahwa semua non-Yahudi adalah binatang dan binatang boleh dimatikan. Konsekuensi logis dari kepercayaan ini makan Teologi Yahudi membuka ruang baginya untuk mencapai tujuan dengan segala cara. Persis seperti doktrin Machiavelli. “Orang Yahudi mungkin berbohong, menipu dan mencuri dari orang non Yahudi. Mereka mungkin memperkosa dan membunuh,” tegasnya ketika menulis The History of Jewish Human Sacrifice.
Bangsa-bangsa Kanaan mengorbankan bayi kepada dewa-dewa mereka sebagai bagian dari ritual keagamaan mereka. Perbuatan tercela ini dengan tegas dilarang oleh Allah (bd: Im 20:2-5; Yer 32:35)
Hal sama juga pernah ditemukan pada tahun 169 SM. Flavius Yosefus (37 M-Meninggal Abad 2 M), seorang ahli sejarah Yahudi dalam Againts Apion yang merupakan buku terbaik mengenai sejarah Yahudi mengetengahkan kisah ketika Raja Antokius Epifanes dari Syria mendapati seorang Yunani tengah mengumpat di sebuah kamar rahasia. Orang Yunani ini meminta sang Raja untuk menolong nyawanya. Alasan korban memang logis. Saat itu ada sebuah hukum berlaku bagi orang Yahudi untuk mengorbankan manusia pada waktu-waktu tertentu di tiap tahunnya. Karenanya, mereka mencari orang asing yang bertujuan membuat tubuh mereka bugar. Jalannya sangat mengerikan. Yosefus menceritakan calon korban akan digelangan terlebih dahulu masuk ke dalam hutan. Ketika mereka tengah berada di hutan, maka orang-orang Yahudi ini akan memakan daging mereka. Sedangkan beberapa darah yang keluar akan menjadi jamuan minum mereka. Ironisnya, tanpa ada rasa bersalah terlebih dosa, sisa-sisa tubuh para korban terbuang ke dalam sebuah lubang. Sekali lagi kita harus ingat, bahwa dalam doktrin Yahudi kelompok ghoyyim adalah binatang. Dan binatang tidak pantas diperlakukan sama dengan manusia sempurna.
Kejadian demi kejadian pembasmian bangsa Non Yahudi dengan dalih ritual terus berlangsung hingga di abad-abad awal masehi. Pada tahun 418 Masehi, kabar menyeruak bahwa seorang anak laki-laki telah disalib oleh orang Yahudi. Kejadian ini berlangsung antara Aleppo (Suriah) dan Antokia (Turki). Satu tahun berikutnya antara Chalcis dan Antiokhia, kembali dilaporkan bahwa orang Yahudi telah mengikat anak laki-laki di kayu salib pada hari libur dan dicambuk hingga mati. Enam abad berikutnya, tepatnya pada tahun 1071 M, beberapa Yahudi dari Blois menyalib seorang anak selama perayaan Paskah. Tubuh anak itu diletakkan ke dalam karung dan dilemparkan ke dalam sungai. (Robert dari Mons, Senin Germ.. Versi. Script VI 520).
Dan yang paling menyeramkan terjadi di Norwich pada tahun 1114 Masehi. Seperti termuat dalam dokumen Acta Sancta, bahwa selama perayaan Paskah, St William telah diikat oleh orang Yahudi lokal. Ia digantung dari salib, dan darahnya terkuras dari luka di sisinya. Orang Yahudi menyembunyika mayatnya di sebuah hutan. Dan proses ritual seperti itu masih terjadi sekarang ini. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG
Selasa, 14 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (1)
islampos.com–“TIDAK ada kata yang pas selain menyebut Yahudi sebagai bangsa purba.” (Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris)
Adalah sejarawan terkemuka Yahudi, Josef Kastein (1860-1946), dalam bukunya History of Jews yang mengatakan bahwa yang menjadi dasar ritual pembunuhan bangsa yahudi karena menurut pandangan kaum Yahudi darah adalah tempat jiwa bersemayam.
Kaum Yahudi zaman dahulu menjadikan darah orang Kristen untuk dikeluarkan dari tubuhnya lalu diminumnya. Mereka percaya bahwa dengan meminum darah tersebut, mereka akan meraih apa yang mereka inginkan. Mulai dari tubuh yang sempurna hingga otak yang memiliki kecerdasan segalanya. “Because of this belief, the Jews are known to have practiced drinking blood since they made their first appearance in history,” tandas Willie Martin dalam tulisannya The History of Jewish Human Sacrifice.
Ritual yang dilaksanakan kaum Yahudi ini pun sangat mengerikan dan menakutkan. Satu orang korban bisa dibunuh secara bergerombol di tempat keramaian. Ada pula korban yang diikat tangannya, dan sebuah benda tajam mulai mencincang leher mereka. Tidak sedikit pula perut para korban digunting untuk mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Deras darah tersebut akan ditadah sebagai persembahan dalam jamuan ritual Yahudi. Tanpa ada gurat penyesalan atas matinya korban, para rabbi Yahudi tersebut malah sibuk mengeringkan darah untuk kemudian dituangkan ke dalam bejana berisi anggur dan roti. Dengan jemari kirinya, seorang Pendeta Yahudi akan mengaduk-aduk berbagai campuran yang sudah dimasukkan sambil membaca mantera “Dam Issardia chynim heroff Jsyn prech harbe hossen mashus pohorus,” (EROD, VII, 12) yang artinya “Kami mohon agar Tuhan mau menurunkan sepuluh wabah atas semua musuh agama Yahudi (termasuk Islam).”
Setelah mengucapkan mantera tersebut, sang Pendeta akan terlihat menangis. Tangisan haru yang tentu ditujukan bukan untuk mengasihi kita orang Islam yang menurut mereka akan dicemplungkan ke dalam api neraka neraka, namun tangisan itu lebih untuk menunjukkan pelampiasan emosional mereka dalam menjalani ritual.
Pesta Paskah Yahudi sendiri hanyalah satu dari kesekian festival yang dijadikan hari dimana ritual meminum darah dilakukan. Ia adalah perayaan yang diselenggarakan pada hari ke-14 dalam bulan yang disebut Nisan (Imamat 23:4; Bilangan 9:3-5, Bilangan 28:16) atau bulan pertama kalender Ibrani selama delapan hari. Festival ini berakhir pada hari ke-21 Nisan di Israel, dan hari ke-22 Nisan di luar Israel dan dirayakan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Selama seminggu itu hanya roti yang tidak beragi yang boleh dimakan, sehingga hari-hari itu juga disebut Hari Raya Roti Tidak Beragi.
Tua, muda, balita semuanya menjadi korban dari implementasi ajaran kabbalah tersebut. Tidak ada sejarah pasti sejak kapan ritual pembunuhan mulai rutin dilakoni Yahudi, namun Willie Martin menjelaskan usia dari ritual ini hampir sama tuanya dengan orang Yahudi itu sendiri.
Selain Festival Paskah, Festival yang menjadi pelampiasan ritual pembunuhan Yahudi adalah Festival Purim. Festival ini adalah sebuah pesta kaum Yahudi yang dirayakan pada tanggal 14 dan 15 Adar (terakhir berlangsung 20 Maret 2011). Pesta diselenggarakan dalam rangka peringatan atas pembebasan bangsa Yahudi oleh Mordekhai dan Ester di bawah raja Persia Ahasyweros. Dalam perayaan ini, banyak hal-hal unik dapat ditemui. Salah satunya adalah penampilan berbeda para pria Yahudi orthodox yang biasanya memakai busana hitam-hitam, begitu juga dengan para wanitanya.
Sehari sebelum Festival Purim dilaksanakan, para Yahudi ini larut dalam doa dan puja-puja kepada Tuhan-tuhan mereka. Tidak sedikit dari mereka juga menjalani puasa. Namun tidak ada yang tahu bahwa tersimpan cerita hitam dibalik perayaan yang memaksa Pemerintahan Israel kerap menutup jalur Gaza dan Tepi Barat ini.
Adalah Dr. Arnold Sepencer Leese (1878–1956), seorang Cendekiawan Barat yang sukses menyingkap kabut misteri Festival Purim yang teramu dalam bukunya, Jewish Ritual Murder. Dalam bukunya, Dr. Leese menceritakan kisah seorang pendeta Kristen asal Italia bernama Francois Antoinne Thomas yang bepergian ke Suriah guna melakukan kerja amal kepada masyarakat setempat. Pada 5 Februari 1840, ia telah diminta oleh penduduk sebuah perkampungan Yahudi untuk mendermakan obat-obatan kepada Anak-anak di sekitat situ.
Saat pulang, Thomas berkenalan dengan seorang Yahudi yang bernama Daud Hariri dan memenuhi permintaan Daud untuk singgah di rumahnya. Tanpa mengetahui, undangan itu ternyata hanyalah sebuah satu perangkap. Di rumah Daud telah siap beberapa orang Yahudi menunggu kedatangan Thomas.
Setelah hampir senja, seorang tukang gunting rambut bernama Sulaiman (seorang Yahudi) dipanggil untuk membantai Thomas. Tukang gunting itu agak takut-takut tetapi Daud sendiri mengeluarkan pisau lantas ikut terlibat sambil dibantu oleh Harun, Hariri, adik Daud.
Darah Thomas ditempatkan dalam sebuah tempat kemudian diberi kepada Rabbi Yaakub al-Antabi untuk diteruskan dalam sebuah acara. Rabbi Yaakub menyapu darah segar itu pada roti suci dan dipuja untuk hidangan Festival Purim yang bakal berlangsung pada 14 Februari 1840.
Mayat Thomas kemudian dipotong kecil-kecil dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Selepas itu mereka menunggu pula kedatangan pembantu Thomas, Ibrahim Ammar yang datang untuk mencari keberadaan Thomas. Naas, Ibrahim menerima nasib serupa. Ia menjadi korban upacara Festival Purim yang ditunggu-tunggu golongan Yahudi itu.
Kasus inipun kemudian memancing perbincangan besar-besaran di masyarakat Eropa, Amerika, dan dunia Arab. Itu hanyalah satu kasus. Karena beberapa korban Purim lainnya juga mengalami nasib tragis. [Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG
Senin, 13 Agustus 2012
Beginilah Kaum Yahudi Melaksanakan Ritual Pembunuhannya (5)
“Apabila
seorang Yahudi membutuhkan hati, lalu apakah boleh diambilkan hati dari
tubuh orang non Yahudi yang tidak berdosa demi menyelamatkan seorang
warga Yahudi ? Taurat sangat mungkin memfirmankan bahwa perbuatan
seperti itu adalah kosher (halal)”
Kata-kata di atas diucapkan oleh Rabbi Yitzhak Ginsburgh dan dilansir
oleh media terkenal Israel, The Jewish Week, pada Jum’at, 26 April
1996. Nama Ginsburgh tentu bukanlah nama yang asing di kalangan Yahudi.
Pria kelahiran tahun 1944 ini terkenal sebagai seorang Rabi Amerika yang
lahir di Israel. Buku-bukunya pun tersebar luas di kalangan Yahudi
menjadi rujukan untuk mendalami agama Yahudi seperti Adamah Shamayim Tehom, (1999) Ahava (2010) Al Yisrael Ga’avato (1999) Ani L’Dodi (1998) Kumi Ori (2006) Lahafoch Et Hachoshech L’ori (2004) dan masih banyak lagi.
Pernyataan Ginsburgh tersebut tentu menjadi kontroversial karena
dikeluarkan untuk menjawab polemik seputar hukum menggunakan organ tubuh
“manusia” di luar Yahudi. Penulis sengaja mengapit tanda kutip karena
selama ini sejumlah literatur Yahudi sudah kadung memvonis bahwa orang
non Yahudi lebih hina daripada babi yang sakit. Akan tetapi, jawaban
Ginsburgh ternyata diluar perkiraan umat Yahudi pada umumnya. Dengan
lantang, dekan sebuah Sekolah Agama Yahudi di Israel ini memberikan
fatwa boleh dalam kasus ini. Ginsburg beralasan nyawa seorang Yahudi
memiliki nilai yang tiada terkira. Maka, keselamatannya boleh
diperjuangkan meski harus mengambil organ tubuh orang non Yahudi. Sekali
lagi orang non Yahudi: “Karena Yahudi lebih suci dan unik dibanding
dengan nyawa bangsa lain,” tandas Ginsburg.
Meski kebanyakan warga Israel menolak pandangan seperti ini, namun
Rabbi Moshe Greenberg yang ahli tentang pandangan-pandangan kitab-kitab
suci Israel, justru memperkuat alibi Ginsburg. Ia menyatakan bahwa
pemanfaatan organ tubuh seorang goyyim -suka tidak suka- memang
dibolehkan karena firman-firman Yahudi mengamini itu. Lebih jauh
Profseor dalam Hebrew University ini, seperti dikutip oleh Abdi Al Haqq
dalam bukunya Israel Menjarah Organ Tubuh Muslim Palestina,
menyatakan bahwa firman-firman kitab suci seperti itu murni masuk secara
teoritis dalam kitab-kitab tersebut, karena pada waktu itu umat yahudi
memang tidak kuasa untuk melaksanakannya. Namun, saat ini menurutnya
hukum tersebut masih berlaku tidak saja ketika Yahudi sudah memiliki
negara, namun ketika sudah kuat sekalipun.
Rupanya fakta yang selama ini ditutupi Yahudi satu per satu mulai
muncul ke permukaan. Sikap cuci tangan Israel atas tuduhan pencurian
organ tubuh muslim Palestina pun menjadi sangat naïf untuk didengar. DR.
Yehuda Hiss, Direktur Kamar Mayat Israel antara tahun 1988 hingga 2004
menjadi salah satu Tokoh yang dianggap bertanggung jawab atas misteri
yang menimpa organ tubuh muslim Palestina. Nasib pilu mesti dialami
rakyat Palestina karena mereka tidak saja dizalimi, dibunuh, tapi
mayatnya juga harus menjadi “tumbal” demi kepentigan Yahudi.
Pada
tahun 2000, koran Israel Yediot Ahronot sempat memuat laporan hasil
investigasi yang mengungkapkan bahwa DR Yehuda Hiss kedapatan kerap
mencopot organ tubuh tanpa izin. Mayat syuhada Palestina tersebut diisi
dengan gagang sapu dan kapas yang dipotong-potong sebelum penguburan. DR
Yehuda Hiss kemudian dituding terlibat dalam penjualan organ tubuh
manusia yang terdiri dari kaki, paha, indung telur, payudara, hingga
(maaf) buah zakar. Namun uniknya meski fakta demikian terang benderang
hampir tidak ada tindakan yang dilakukan Pemerintah Israel atas fakta
tersebut. Semakin kuat Israel memungkiri tindakan kejinya, semakin bukti
berdatangan untuk memperkuat realita itu. Keluarga korban pun menuntut
pertanggungjawaban dengan menyeret Israel ke Mahkamah internasional
Sebuah tayangan video berdurasi 57 menit akhirnya berhasil mengungkap
bagaimana DR. Yehuda Hiss memberikan “restu” untuk mencuri organ-organ
tubuh, memberikan instruksi kepada para dokter untuk melakukan hal
tersebut, dan terkadang dia sendiri yang melakukan pencurian organ
tubuh. “Kami tidak akan mencongkel seluruh bagian bola mata, kami hanya
akan memotong bagian kornea mata kemudian menutup kembali mata
(jenazah),” kata Hiss dalam video itu. Israel murka, dan mengancam akan
memperkarakan tiap wartawan yang mengangkat kasus itu.
Kasus pencurian organ muslim ternyata tidak saja terjadi di
Palestina. September 2009, Amerika pernah dibuat gempar atas penangkapan
seorang Rabi Yahudi do Amerika yang merupakan pimpinan mafia
internasional perdagangan organ manusia dan penculikan anak-anak dari
Aljazair oleh pihak kepolisian New York.
Pria Yahudi yang di tangkap tersebut merupakan salah satu dari
sindikat yang terlibat dalam isu perdagangan organ yang terungkap
baru-baru ini. Dr. Mustafa Khayati, direktur Komisi Nasional Aljazair
untuk Peningkatan Kesehatan dan Pengembangan Penelitian, kepada harian
“al Khabir” Aljazair, mengatakan, “Penangkapan mafia ini terjadi setelah
penyelidikan Interpol menunjukkan bahwa anak-anak Aljazair diculik dari
kota-kota barat Aljazair dan dibawa ke Maroko, untuk diselundupkan
ginjal mereka ke “Israel” dan Amerika Serikat; dijual dengan harga
antara 20 ribu dan 100 ribu dolar untuk setiap satu ginjalnya.”
Khayati menjelaskan geng ini sengaja menculik anak-anak dari Aljazair
kemudian dilakukan operasi terhadap mereka di Maroko, sebelum diekspor
dan dijual di entitas Zionis Israel dan Amerika Serikat. Para dokter
yang aktif dalam masalah ini dibekali dengan peralatan yang diperlukan
untuk melakukan operasi jenis ini. Tidak dijelaskan kapan terjadinya
penangkapan seorang Yahudi Amerika yang memimpin aksi pencurian organ
anak-anak Aljazair tersebut. Khayati menjelaskan bahwa penangkapan
jaringan yang dipimpin oleh orang Yahudi ini tidak berarti bahwa bahaya
telah berlalu; para spesialis dan pengamat ini menegaskan bahwa ada
kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang masih aktif di beberapa negara
Arab.
Saetelah kasus ini menyeruak dikabarkan bahwa pemerintah AS meringkus
sebanyak 44 orang, di antaranya adalah para Rabi Yahudi dan dan para
pemimpin kota di wilayah New Jersey, setelah mereka dituduh terlibat
dalam kegiatan pencucian uang dan penjualan organ tubuh manusia.
Kasus
tidak berhenti disitu. Harian terkemuka Swedia, Afonbladet sempat
membuat berang Israel ketika menaikkan artikel berjudul “Mereka Merampas
Organ Tubuh Anak-Anak Kami.” Dalam artikel itu disebutkan bahwa
tentara-tentara Zionis menculik anak-anak muda Palestina di Tepi Barat
dan Jalur Gaza. Anak-anak muda itu dikembalikan lagi pada keluarganya
dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi tubuh yang tidak lagi utuh.
Seorang lelaki Palestina asal kota Nablus, pada wartawan Aftonbladet
mengaku bahwa kerabatnya dijadikan donor organ tubuh secara paksa oleh
tentara-tentara Zionis. Tidak sedikit warga Palestina menjadi korban
atas aksi biadab pasukan Zionis tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Selain itu Aftonbladet juga membeberkan peristiwa yang terjadi tahun
1992, ketika seorang aktivis muda Palestina ditangkap oleh tentara
Zionis di kota Nablus. Aktivis itu ditembak di bagian dada, di perut dan
di kedua kakinya kemudian dibawa ke tempat yang tidak diketahui oleh
tentara-tentara Zionis itu.
Jenazah pemuda Palestina bernama Bilal itu baru ditemukan lima hari
kemudian dalam kondisi mengenaskan. Menurut Aftonbladet, saat ditemukan,
kondisi Bilal saat menyedihkan. Luka menganga di bagian dadanya menjadi
bukti penyiksaan macam apa yang telah dialami Bilal.
Hingga kini para Rabi Yahudi mengklaim bahwa tindakan itu adalah sah
bagi Israel. Mereka menilai Yahudi memiliki hak untuk melakukan
pembunuhan atau penjualan organ tubuh muslim palestina dan anak-anak
muslim lainnya dimanapun mereka berada. “Setiap orang Yahudi, yang
menumpahkan darah orang durhaka (non-Yahudi), sama dengan
mempersembahkan kurban kepada Allah.” (Bammidber Raba, c 21 & Jalkut
772).
Entah sampai kapan hal ini terus terjadi? Kita yang bisa menjawab
pertanyaan itu. Ya, kita umat Islam. [Muhammad Pizaro Novelan
Tauhidi/islampos]
BERSAMBUNG
Jumat, 10 Agustus 2012
Tokoh-tokoh Yahudi Yang Merusak Pemikiran (5)
“Jadi saya pikir pada saat itu setiap wanita akan bereaksi dengan berbagai cara yang berbeda. Beberapa wanita pada saat itu tidak akan memasak, sedangkan yang lainnya akan terlibat dialog dengan suami mereka. Di Seluruh negeri beberapa wanita akan keluar untuk berunjuk rasa. Mereka akan menekan anggota Kongres Senator agar meluluskan undang-undang yang mempengaruhi peran wanita. “
Kalimat di atas diucapkan Betty Friedan untuk menyambut demo besar-besaran wanita pada tanggal 26 Agustus 1970 di Amerika Serikat. Friedan adalah seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat sebagai presiden pertama National Organization for Woman pada tahun 1966. Ia menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU di Amerika yang melarang aborsi dan pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.
Betty Friedan sendiri terlahir dengan nama Betty Naomi Goldstein pada tanggal 4 Februari tahun 1921. Pada giliranya Friedan berkembang menjadi seorang aktivis feminis Yahudi Amerika kenamaan pada durasi medio 1960-an. Puncak momentumnya terjadi setelah ia berhasil mengarang “The Feminine Mystique“. Buku yang menjadi rujukan kaum feminis ini menggambarkan peranan wanita dalam masyarakat industri. Di situ, Friedan mengkritik habis peran ibu rumah tangga penuh waktu yang baginya sangat mengekang dan jauh dari penghargaan terhadap hak wanita.
Buku Freidan pun terjual laris. The Feminine Mystique berubah menjadi “kitab suci” bagi kaum wanita dan ia digadang-gadang sebagai pencetus feminisme gelombang kedua setelah ombaknya pernah menyapu dunia abad 18.
Teori yang sangat ternama sekali darinya adalah apa yang disebut oleh Freidan dengan istilah Androgini. Androgini sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang berarti perempuan) yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait tentang gender.
Namun sejatinya, kata Androgini muncul pertama kali sebagai sebuah kata majemuk dalam Yudaisme Rabinik sebagai alternatif untuk menghindari kata hemaprodit yang bermasalah dalam tradisi Yahudi.
Akan tetapi, sekalipun telah menapaki karir yang sangat memuncak dalam dunia feminisme, gagasan Freidan pun juga menjadi sasaran kritik. Menariknya orang yang mengkritik Friedan adalah seorang feminis lainnya bernama Zillah Eisenstein. Eisenstein sendiri adalah Profesor Politik dan aktivis feminis dari Ithaca New York. Ia menulis kritikan tajam terhadap gagasan konsep wanita bekerja milik Friedan. Dalam bukunya, Radical future of Liberal Feminism, Eisenstsein mengkritik,
“Tidak pernah jelas apakah pengaturan ini seharusnya meringan beban ganda perempuan (keluarga dan pekerjaan) atau secara signifikan menstruktur ulang siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Bagaimana tanggung jawab ini dilaksanakan?”
Henry Makow dalam tulisannya Gloria Steinem: How the CIA Used Feminism to Destabilize Societytelah menjelaskan dengan baik bagaimana peran CIA dalam memobilisir isu feminisme. Pakar konspirasi kenamaan ini mengatakan bagaimana media elit telah menciptakan feminisme gelombang kedua sebagai bagian dari agenda elit untuk meruntuhkan peradaban dan mendirikan New World Order. Kesalahpahaman utama kita tentang CIA, kata Makow, adalah bahwa CIA melayani kepentingan AS. Nyatanya, ia selalu menjadi instrumen dinasti elit minyak dan perbankan internasional (Rothschild, Rockefeller, Morgan) yang dikoordinasi oleh Royal Institute for Internal Affairs di London dan cabang mereka di AS, Council for Foreign Relations. Lembaga ini didirikan dan diisi oleh orang-orang berdarah biru dari penguasa perbankan New York dan lulusan perkumpulan pagan rahasia, “Skull and Bones”.
Jutaan pria Amerika pun akhirnya dilemahkan dan dipisahkan dari hubungannya dengan keluarga (dunia dan masa depan). Wanita Amerika diperdaya hingga mencurahkan diri dalam karir keduniaan ketimbang dalam kasih-sayang tiada akhir kepada suami dan anak-anaknya. Banyak wanita sudah tak layak untuk menjadi isteri dan ibu. Orang-orang, yang terisolasi dan sendirian, terhalangi (pertumbuhannya) dan lapar akan kasih sayang, mudah sekali dibodohi dan dimanipulasi. Tanpa pengaruh sehat kedua orangtua yang mencintai, begitulah anak-anak mereka jadinya.
Penindasan terhadap wanita adalah kebohongan. Pembagian peran berdasar jenis kelamin tak pernah sekaku yang dipropagandakan kaum feminis. “Ibu saya sukses menjalankan bisnis impor tali arloji dari Swiss pada tahun 1950-an. Saat pendapatan ayah saya meningkat, dia bersedia berhenti dan berkonsentrasi mengurus anak-anak. Wanita bebas mengejar karir jika mereka mau. Bedanya, dahulu peran mereka sebagai isteri dan ibu dipahami, dan disahkan secara sosial, sebagaimana mestinya. Hingga Gloria Steinem dan CIA datang bersama-sama,” jelas Makow panjang lebar.
Walhasil, Feminisme adalah penipuan besar-besaran yang dilakukan terhadap masyarakat oleh elit pemerintahnya. Hal itu dirancang untuk memperlemah struktur sosial dan budaya Amerika dalam rangka mengenalkan New World Order sebagai sebuah fasisme yang ramah. Para pendukungnya adalah orang-orang berlagak suci yang menjadi kaya dan berpengaruh darinya. Mereka meliputi golongan pendusta dan timpang moral yang bekerja untuk elit dalam beragam kapasitas: pemerintahan, pendidikan, dan media. Para penyamar ini harus dibongkar dan dicemooh. (Pizaro/bersambung)
Sumber: islampos.com
Sumber: islampos.com
Minggu, 05 Agustus 2012
Tokoh-Tokoh Yahudi Yang Merusak Pemikiran (2)
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS al-Baqarah [2]: 87).
islampos.com—KEBENCIAN kaum Yahudi terhadap umat Islam selalu menjadi sebuah perbincangan serius di dalam Al Qur’an. Allah berkali-kali menjelaskan sifat kaum ini yang sungguh tidak rela ketika Islam tumbuh menjadi agama yang benar. Salah satu misi tersebut kini banyak diemban oleh para orientalis Yahudi. Salahsatunya adalah Abraham Geiger (1810-1874).
Bisa dikata Geiger adalah orang yang pertama kali mengatakan Al Qur’an dipengaruhi agama Yahudi. Anda tahu apa judul essainya hingga kemudian memenangkan kompetisi masuk Universitas Bonn tahun 1832? Sangat provokatif, yakni “Apa Yang Diambil Muhammad Dari Yahudi”. Essai ini langsung diseleksi Professor Georg B. F. Freytag dari Fakultas Oriental Studies, Universitas Bonn. Hasilnya, Geiger menang dan mendapat hadiah dari hasil tulisannya. Padahal, saat itu usianya baru 22 tahun
Setahun kemudian essai tersebut lantas diterbitkan dengan judul “Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?”. Seperti dikuti dari buku Adnin Armas, Metodeologi Bibel dalam Studi Qur’an, (dalam tulisannya) Geiger menuding kosa kata Ibrani memiliki pengaruh signifikan. Geiger mengutip sebagian kata dalam Al Qur’an yang identik dengan Ibrani seperti Tabut, Taurat, Jannatu ‘And, Jahannam, Ahbar, darasa, Rabani, Sabt, Thaghut, Furqan, Ma’un, Mathani, Malakut. Geiger juga berpendapat Qur’an terpengaruh ketika mengemukakan, (a) hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin (b) peraturan-peraturan hukum dan moral dan (c) pandangan tentang kehidupan. Selain itu, Geiger berpendapat cerita-cerita yang ada di dalam Al Qur’an pun tidak lepas dari agama Yahudi.
Senada dengan Geiger, seorang Yahudi lainnya bernama Joseph Horovitz juga menulis dua buah tulisan untuk menyatakan peran Bahasa Yahudi dibalik redaksi Qur’an, yakni sebuah buku berjudul Das koranische Untersuchungen (1923) dan sebuah artikel bertuliskan Jewish Proper Names and Derivatives in the Koran (1925).
Pandangan Geiger ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historis-kritis ala Geiger ini adalah buku yang diedit oleh Tilman Nagel, yaitu Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld (2010).
Pesan yang ingin Geiger sampaikan adalah bahwa Qur’an bukanlah sebuah kitab yang suci dan menuding bahwa pada dasarnya Nabi Muhammad bukanlah seorang yang ummi. Pandangan ini banyak ditekankan oleh Geiger.
Hartwig Hirschfeld (1854-1934), seorang Yahudi Jerrnan kelahiran Prussia, juga memfokuskan betapa pentingnya melacak kosa kata asing (Fremdworter) Al-Qur’an. Hirschfeld, yang mendapat gelar doktor ketika berusia 24 tahun, menulis disertasi doktoralnya dengan judul Judische Elemente im Koran. Ein Beitrag zur Koranforschung, Berlin 1878 (Elemen-elemen Yahudi dalam Al-Qur’an. Sebuah Sumbangan untuk Penelitian Al-Qur’an). Delapan tahun kemudian, Hirshfeld menulis Beitrage zur Erklarung des Koran, Leipzig 1886 (Sumbangan untuk Tafsir Al-Qur’an). Ia juga menulis New Researches into the Composition and Exegesis of the Qoran, London, 1901 (Penelitian-penelitian Baru dalam Penulisan dan Tafsir Al-Qur’an).
Menurut Hirshfeld, Muhammad bisa membaca dan menulis. Dalam pandangan Hirshfeld, Muhammad mengetahui aksara Ibrani tatkala berkunjung ke Syiria. Selain itu, fakta menunjukkan Muhammad bisa menulis ketika di Medinah. Sulit dipercaya, tegas Hirshfeld, jika Muhammad tidak bisa menulis ketika ia berusia di atas 50 tahun. Selain itu, Hirshfeld berpendapat banyaknya nama-nama dan kata-kata yang diungkapkan di dalam Al-Qur’an menunjukkan Muhammad salah membaca catatan-catatannya yang dibuat dengan tangan yang tidak memiliki skill (The disfigurement of many Biblical narnes and words mentioned in the Qur’an is due to misreadings in his own notes rnade with unskillful hand).
Pernyataan Geiger, Horovitz dan Hirschfeld sudah jauh-jauh hari dipatahkan Al Qur’an itu sendiri. Allah SWT dalam surat Al Fushilat ayat 44 berfirman, “Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab karena ia adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia di atas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.”
Abu Ubayd menjelaskan sekalipun asal muasal kosakata Qur’an bersinggungan dengan bahasa Asing, tidak serta merta bahwa Al Qur’an berasal dari bahasa lain, karena kosakata asing tersebut sudah terarabkan dan memiliki makna tersendiri. Allah, dalam konsep pra-Islam, berbeda dengan Allah dalam konteks agama Islam. “Ini disebabkan Islam membawa makna baru. Islam telah meluruskan, mengIslamkan ajaran yang salah dari jahiliyah, agama Yahudi dan Kristen,” tegas Prof Mohd Nor Wan Daud dalam bukunya The Educational Philosophy.
Hal senada juga dikatakan oleh Syed Naquib Al Attas. Dalam bukunya, The Concept Education in Islam, pendekar Ilmu dari Melayu ini mengatakan bahwa Islamisasi yang dilakukan Rasulullah SAW dengan tanda turunnya wahyu menjadikan bahasa sebagai media yang sangat penting. Bahwa hal pertama yang dilakukan al-Qur’an adalah merombak struktur semantik konsep-konsep kunci dalam bahasa Arab Pra Islam dan memberinya makna baru seperti kata Allah, Haji, maupun nikah. Itulah yang membedakan Al Qur’an dan kitab suci lainnya.
Karenanya, seperti dikatakan Sayyid Quthb dalam bukunya Indahnya Al Qur’an Berkisah,
menjelaskan mengapa sebagai sebuah kitab suci, al-Qur’an dapat melumpuhkan bangsa Arab. Pakar sastra ini berkesimpulan rupanya al-Qur’an tidak saja kaya dengan susunan redaksinya, tapi juga mengikat beberapa ayat dengan unsur tasyri (penetapan hukum) yang dirasa adil, detail, dan amat tepat digunakan dalam setiap zaman. Yang ini tidak akan mungkin mencoba diselarsakan dalam konteks bahasa Ibrani dengan menjadikan agama Yahudi sebagai induknya. Karenanya, tuduhan dari Geiger, Horovitz dan Hirshfeld bahwa Al Qur’an menjiplak kata-kata dalam Yahudi menjadi gugur dengan sendirinya. (Pizaro/Bersambung)
Sumber: islampos.com







